Total Tayangan Halaman

Selasa, 22 Juli 2014

Sekilas Tentang Makrifat


Saya pernah menulis status di Facebook tentang beda ilmu dan makrifat, “ilmu mengenalkan kita tentang Allah sedangkan makrifat mengantarkan kita kepada-Nya”. Mungkin banyak  yang penasaran dimana beda ilmu dan makrifat padahal buku-buku tentang tasawuf/tarekat banyak membahas masalah makrifat sebagai ilmu dan bahkan ada buku dengan judul “ilmu makrifat” atau “Pengantar ilmu makrifat”.
Untuk lebih mudah memahami beda antara makrifat dengan ilmu saya kemukakan beberapa ucapan sahabat dan tokoh sufi. Saidina Ali ketika ditanya tentang makrifat, Beliau berkata, “Aku mengenal Allah dengan Allah dan aku mengenal selain Allah dengan cahaya-Nya”. Abu Yazid berkata, “tidak ada keraguan sedikitpun dalam hatiku tentang Allah”. Makrifat berdasarkan ucapan diatas adalah pengalaman seorang hamba ketika berjumpa dengan Tuhannya. Makrifat khusus tentang bagaimana cara berhubungan dengan Allah dan orang yang telah mencapai tahap makrifat disebut dengan ‘Arif. Dalam keseharian kita sering mendengar istilah ‘Arif yang digabungkan dengan kata “bijaksana” sehingga menjadi Arif Bijaksana walaupun orang yang disebut Arif Bijaksana tersebut belum tentu benar-benar telah mencapai tahap makrifat.
Di dalam Kasful Mahjub kitab tasawuf klasik karya Imam Al-Qusyairi dijelaskan bahwa syarat untuk mencapai makrifat itu bukan pandai atau luas pengetahuannya karena kalau itu sebagai syarat maka semakin pandai seseorang maka semakin dia bermakrifat kepada Allah, kenyataan semakin pandai manusia semakin dia bingung dengan keberadaan Tuhan. Ilmu diperoleh dari panca indera sedangkan makrifat diperoleh lewat Qalbu (hati).
Makrifat tidak diperoleh dengan membaca dan mendengar, itulah sebabnya walaupun belajar banyak dari buku-buku tasawuf atau mengambil jurusan master tasawuf di universitas tidak akan menjamin untuk mencapai tahap makrifat. Pengetahuan tasawuf yang membahas tentang makrifat yang merupakan pengalaman dari Para Guru Sufi hanya bisa menjelaskan kita tentang apa itu makrifat tapi tidak akan pernah bisa membawa kita kepada pengalaman bermakrifat.
Makrifat adalah kondisi dimana seorang hamba sangat dekat dan akrab dengan Tuhannya tanpa keraguan sedikitpun yang sedang disembah dan sedang dipuja tersebut adalah Allah bukan yang lainnya, bukan sajadah atau dinding mesjid dan bukan pula ka’bah. Bahkan Imam Junaidi Al-Baghdadi ketika ditanya apakah Beliau melihat Tuhan yang disembah dalam ibadah, Beliau menjawab, “Kami tidak menyembah Tuhan yang tidak kami lihat”.
Pengalaman-pengalaman ruhani para sufi hanya bisa dicapai lewat mujahadah, berperang melawan diri sendiri, melawan setan yang bersemayam dalam dada setiap manusia tanpa kecuali. Mujahadah berupa zikir, puasa dan berbagai kegiatan yang bersifat ubudiyah kepada Allah, lewat itulah Allah berkenan memberikan karunia berupa Makrifat yaitu mengenal Dzat Allah yang Maha Agung. Jadi makrifat itu bukan hasil pencarian tapi merupakan karunia dari Allah SWT.
Sebelum mencapai tahap makrifat, seorang salik (murid penempuh jalan kepada Tuhan) terlebih dahulu mengenal dan mahir dengan Muraqabah, sehingga dia sangat mudah mengenal yang mana malaikat dan yang mana pula setan. Dia akan mudah mendeteksi bisikan-bisikan halus yang menyusup ke dalam dada dan pikiran manusia, bisikan setan atau bisikan malaikat, godaan iblis atau ilham dari Allah.
Banyak orang terjebak di alam rohani, menuntut ilmu hanya dengan membaca atau melakukan ritual tanpa bimbingan sehingga dia merasa sudah mencapai tahap makrifat. Dengan bangga kemudian meneriakkan apa yang diteriakkan tokoh sufi, karena merasa suci kemudian meninggalkan ibadah-ibadah yang sudah jelas-jelas di wajibkan oleh agama. Di zaman sekarang kita semakin sulit membedakan antara Hamba Allah atau Hamba Setan, ulama yang merupakan pembawa cahaya Allah atau dukun sebagai duta setan karena keduanya sudah bercampur aduk. Seorang dukun pun sangat mahir dalam berbicara tentang makrifat dan seolah-olah dia telah mencapai tahap makrifat, padahal apa yang disampaikan hanya sekedar teori dan hasil dari bacaan di buku-buku gaib. Karena itu Abu Yazid al-Bistami mengingatkan kita semua lewat ucapan Beliau, “Barangsiapa yang menuntut ilmu Tanpa Syekh (Guru) maka wajib setan Syekh (Guru) nya”.
Sulit memang membedakan ilmu yang benar dan ilmu yang keliru karena apa yang kita sebut sebagai ilmu benar itu bisa jadi keliru. Standar untuk mengukur apakah ilmu yang kita pelajari itu sah atau tidak bukan pada bentuk ilmunya. Semua orang mengklaim memperoleh ilmu dari Al-Qur’an dan Hadist. Sah atau tidaknya tergantung kepada Guru Mursyid tempat dia memperoleh ilmu tersebut. Dalam dunia tarekat Silsilah atau Rantai Emas yang merupakan menyambung antara Guru satu dengan Guru sebelumnya sampai kepada Rasulullah SAW adalah alat pengukur apakah ilmu yang diajarkan itu sah atau tidak. Kalau ilmu yang diperoleh dari Guru yang Silsilah Keguruannya tidak bersambung kepada Rasulullah SAW maka ilmu tersebut wajib diragukan keasliannya.
Seorang Guru Mursyid akan mengajarkan ilmu kepada para murid baik syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat dalam satu paket sebagai warisan dari Rasulullah SAW. Hadist yang disampaikan Guru Mursyid benar-benar dijamin keasliannya karena memang disampaikan lewat jalur yang sah, jalur yang bersambung yang terjamin keasliannya. Seluruh ajaran Guru Mursyid tidak akan terlepas dari apa yang di firmankan oleh Allah SWT dan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tidak berubah dan tidak akan diubah sampai akhir zaman.
Satu hal yang harus diingat bahwa yang langka di dunia ini bukan ilmu berhubungan dengan Allah, bukan ilmu tarekat, bukan juga ilmu syariat karena semua ilmu itu bisa diperoleh dimana saja, dibuku, pasantren, universitas Islam, yang langka adalah Guru Mursyidnya, Grand Masternya yang menumpahkan ilmu lewat dada Beliau kepada para murid dimana saja si murid berada dan kapan saja. Ilmu yang ditumpahkan lewat dada ini lah yang benar-benar murni berasal dari Rasulullah SAW. Ucapan Nabi, “Tidak ada yang tersisa di dadaku ini kecuali aku tumpahkan ke dada Abu Bakar”.
Hamzah paman Nabi ingin sekali belajar Al-Qur’an dan ingin sekali paham tentang Al-Qur’an. Ketika Hamzah mengemukakan keinginannya kepada Nabi, kemudian Nabi memeluk paman Beliau dan sejak saat itu Hamzah langsung paham tentang Al-Qur’an. Nabi telah mentransfer Nur Al-Qur’an yang murni dari dada Beliau kepada dada paman Beliau.
Akhirnya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT karena Allah dengan Rahman dan Rahimnya berkenan memperkenalkan kepada kita Auliya-Nya, Kekasih-Nya yang lewat Kakasih-Na itu kita dibawa berkenalan dengan Allah SWT yang Maha Agung dan Maha Suci sehingga ibadah yang kita lakukan benar-benar tanpa keraguan sedikitpun. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa bermanfaat untuk kita semua, Amin ya Rabbal ‘Alamin!
Bangunlah Dari Mimpi! (Selesai)




Nabi mengatakan bahwa ibadah akan ditolak oleh Allah kalau ibadah itu tidak dilakukan dengan Ikhlas.
Bagaimana mungkin ibadah bisa ikhlas kalau dalam hati sanubari masih bersemayam unsur yang menyebabkan
hati tidak ikhlas yaitu Iblis beserta bala tentaranya. Selama Iblis dan tentaranya masih bersemayam dalam hati
manusia maka selamanya manusia tidak ikhlas beribadah dan ibadahnya akan ditolak.

Iblis tidak akan takut dengan bacaan ayat-ayat Tuhan yang diproduksi oleh mulut kita bahkan Iblis sangat fasih
melantunkan ayat-ayat Tuhan. Bagaimana mungkin Iblis bisa dilawan, umurnya jutaan tahun, bisa keluar masuk
kemana saja bahkan dia bisa keluar masuk ke surga, sedangkan kita???

Hanya satu yang ditakuti oleh Iblis yaitu Allah!. Ketika hati disinari dengan Kalimah Allah, di isi dengan Nur Allah
maka segala unsur-unsur setan dalam diri, Iblis beserta balatentaranya akan lenyap dengan sendirinya. Pelajaran
ini hanya ada di Tarekat tidak ditempat lain.

Kalau kita buka surat Al-Ikhlas maka disana tidak ada satu kata Ikhlas pun disebutkan. Ini bermakna bahwa sebenarnya
ikhlas itu tidak ada dan manusia tidak akan mampu mencapai derajat Ikhlas kecuali ruhani nya dibimbing oleh Rasulullah SAW.
Guru Sufi mengatakan, “Kalau sudah ikhlas maka sudah ada Tuhan disana”. Ketika hati manusia telah bersemayam nur Allah
maka secara otomatis hatinya akan menjadi Ikhlas karena Sang Maha Ikhlas ada disana. Jadi tidak perlu menerka-nerka
apakah ibadah kita  atau tidak, selama hati belum mengenal Allah dengan baik maka selama itu pula ibadah tidak akan
mencapai tahap ikhlas dan ibadah seluruhnya tertolak.

Maka lupakan ibadah-ibadah yang telah anda kumpulkan bertahun-tahun karena itu tidak akan bisa menyelamatkan diri anda.
Segera upgrade ibadah anda dari ibadah jasmani kepada ibadah ruhani sehingga anda mengenal Allah dengan benar baru kemudian menyembahnya.

Orang yang memiliki Guru Mursyid akan terus dibimbing siang dan malam, dimanapun dan kapanpun, terus menerus mendapat pelajaran karena ruhaninya telah hidup sehingga bisa menerima pelajaran dari Allah Yang Maha Hidup. Hakikatnya yang membimbing itu bukan Guru karena Guru mempunyai keterbatasan, yang membimbing itu adalah Allah sendiri setelah mengetahui metodenya yaitu Tariqatullah.


Mengakhiri postingan ini, marilah kita segera menghidupkan ruhani dengan Dzikirullah (Ingat Kepada Allah) sehingga dari dunia ini kita telah terbangun, sadar sepenuhnya, dengan demikian ketika kita mati kita  tidak seperti orang yang terbangun dari mimpi.

Energi Al-Qur’an


Membahas tentang sesuatu yang tidaklah kasat mata sebagaimana bahasan tentang energi memang sangatlah rumit. Hal ini dikarenakan sebagian besar umat manusia selalu ingin melihat pembuktian melalui panca inderanya. Sementara kita memahami bahwa panca indera kita memiliki keterbatasan yang pastilah tidak akan mampu untuk mendeteksi keberadaan sesuatu yang di luar ambang batas toleransi panca indera kita.

Sebagai contoh kita tidak akan mampu mendeteksi atau menerima pancaran frekwensi televisi atau radio hanya dengan panca indera kita. Maka pastilah dibutuhkan suatu mekanisme tertentu yang kemudian diwujudkan dalam piranti peralatan sehingga mata ataupun telinga kita mampu menerima pesan-pesan yang ada dalam frekwensi televisi atau radio tersebut.

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, tetapi mereka berpaling daripadanya (tidak mau memikirkannya)” … (QS Yusuf 12 :105).

Maka demikian juga dengan Al-Qur’an yang sebenarnya bukan hanya yang termaktub di dalam kitab yang dibukukan saja. Tetapi kalau kita melihatnya dengan kacamata ilmu pengetahuan maka sebenarnya Al-Qur’an dari awal dunia berkembang sampai akhir dunia nantinya tetap menggema di seluruh alam semesta. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimanakah caranya supaya kita mampu menerima frekwensi Al-Qur’an yang konon katanya sangatlah dahsyat energinya.

“Dan kami menurunkan dari sebagian Al-Qur’an yaitu sesuatu yang merupakan obat dan rahmat untuk orang-orang mukmin” … (QS Al-Isra’ 17:82).

“Kalau sekiranya dengan Al-Qur’an dapat diperjalankan gunung-gunung (memindah-mindahkan gunung) atau dibelah-belah bumi atau orang mati diajak berbicara/dapat berbicara (niscaya mereka tiada juga mau beriman)” … (QS Ar-Ra’du 13:31).

“Andaikata Al-Qur’an Kami turunkan di atas bukit/gunung, maka engkau akan melihat bahwa gunung itu tunduk dan terbelah karena takut terhadap Allah, dan perumpamaan itu Kami jadikan untuk manusia agar mereka memikirkannya” … (QS Al-Hasyir 59:21).

Dari ayat-ayat di atas jelaslah sudah bahwa begitu dahsyat energi yang dibawa oleh      Al-Qur’an tersebut. Dan diterangkan juga bahwa hanya hati hamba Allah yang tenang, lunak, dan damai saja yang mampu untuk menerimanya. Jadi hanya manusia saja yang diizinkan oleh Allah yang sudah barang tentu dengan dilengkapi piranti-piranti yang telah ditanamkan oleh Allah di dalam manusia tersebut.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa saat ini Islam sudah tidak lagi berenergi apabila Al-Qur’an sebagai senjatanya ? Pasti ada yang salah dalam mengurai Al-Qur’an sehingga pada akhirnya salah dalam tata cara pelaksanaannya. Energi Al-Qur’an saat ini hanya dirasakan oleh segelintir orang yang memang dengan sungguh-sungguh mau merisetnya.

Marilah kita awali dengan memandang Al-Qur’an (kitab) sebagai buku petunjuk untuk menguak rahasia yang lebih luas dari hakikat Al-Qur’an sebagai bentuk energi yang sangat dahsyat.

Perumpamaan :

Buku atau kitab Einstein yaitu KITAB TEORI ATOM. Kitab tersebut mempunyai energi yang dahsyat hingga mampu meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki dalam perang dunia ke 2. Lalu bagaimana caranya mengeluarkan energi dari KITAB TEORI ATOM tersebut ?

Maka yang harus dilakukan adalah :

    Membacanya sebagai awal untuk mengambil informasi yang terdapat dalam kitab tersebut dan menganalisa serta mengambil intisari makna dari kitab tersebut sehingga akhirnya didapatkan rumusan-rumusan dari yang sederhana sampai yang kompleks yang sudah barang tentu harus didampingi oleh ahlinya(tahap ILMUL YAQIN).
    Menguji coba rumusan-rumusan tersebut dengan serentetan proses kimiawi sehingga menghasilkan suatu hasil yang dinamakan bom nuklir (tahap AINUL YAQIN).
    Meledakkan bom tersebut sehingga mendapatkan pembuktian tentang kedahsyatan energi KITAB TEORI ATOM (tahap HAQQUL YAQIN).

Maka apabila kita memakai model pendekatan yang sama terhadap Al-Qur’an maka pastilah kita akan mencapai apa yang dinamakan tahap HAQQUL YAQIN (bukan katanya tapi kataku). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 komponen dalam mengurai energi Al-Qur’an yaitu :

    1.Buku panduan yaitu Al-Qur’an (kitab).
    2.Pendamping yang merupakan pakar Al-Qur’an yaitu Ulama Ahli Dzikir (Pembimbing).
    3.Periset yang menyelidiki bahasan tersebut di atas yaitu Murid.

Pertanyaannya kenapa ahli dzikir ?

“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).

Jadi apakah inti permasalahan yang dapat kita cermati dengan contoh di atas adalah bahwa selama ini ada kesalahan dalam memperlakukan Al-Qur’an. Bukan tak ada gunanya membaca bahkan dengan lagu yang indah-indah. Tetapi lebih daripada itu bahwa sebenarnya ada hal yang lebih penting yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan dari bacaan tersebut sehingga sampailah kita pada fase akhir yaitu membuktikan sendiri kedahsyatan energi Al-Qur’an. Al-Qur’an berisi perintah-perintah kerja dan petunjuk-petunjuk teknis bagaimana cara berhubungan dengan Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada-Ku dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Ku dan bersungguh-sungguhlah pada jalan itu, maka kamu pasti menang” … (QS Al-Maidah 5:35)

Sehingga benarlah bahwa Al-Qur’an membawa energi yang begitu dahsyat karena ternyata yang akan kita dapatkan adalah kedekatan dengan dzat yang Maha Perkasa Allah SWT yang hasilnya akan membawa kemenangan demi kemenangan di muka bumi. Menurut hemat saya tiada urusan yang lebih penting dibandingkan urusan kedekatan kita dengan Allah, karena hanya dengan mendekat kepada Allah adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat kita. Tiada kamus kalah bagi Allah dan para hamba-Nya.

Selanjutnya marilah kita kupas bersama bahasan tentang bagaimana petunjuk-petunjuk teknis yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam firman-Nya disebutkan bahwa diperintahkan atas kita untuk bertanya kepada ahli dzikir apa-apa yang tidak kita ketahui.

Dan di berbagai ayat disebutkan juga tentang perintah Allah untuk mencari manusia yang dipilih Allah sehingga beliau bisa kita jadikan ikutan dan pemberi petunjuk berdasar pengalamannya. Sesuai dengan firman-Nya :

“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).

“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).

“Mereka itulah orang-orang yang telah ditunjuki Allah, sebab itu ikutilah petunjuk mereka itu” … (QS Al-An’am 6:90).

“Kami jadikan di antara mereka itu beberapa orang ikutan untuk menunjuki           manusia perintah Kami dengan sabar serta yakin dengan keterangan Kami” …                             (QS AS-Sajdah 32:24).

“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).

“Tunjukilah (hati) kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan sedang mereka itu bukan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat” … (QS Al-Fatihah 1:6-7).

Maka semakin teranglah sudah bahwa petunjuk teknisnya adalah mencari manusia sebagai pembimbing yang dapat memberikan penjelasan lebih rinci tentang petunjuk teknis yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Karena yang akan kita riset adalah sesuatu yang tidak kasat mata maka bila tanpa pembimbing niscaya kita akan dibimbing oleh bisikan hati kita yang meragukan nilai kebenarannya sebagaimana firman-Nya :

“Aku berlindung kepada Tuhan ….. dari pada kejahatan bisikan syetan. Yang membisikkan dalam hati manusia …” … (QS An-Naas 114:1-6)

Sebelum kita bahas lebih mendalam maka ada baiknya kita urai dulu unsur manusia sehingga masalah akan semakin mudah kita teliti bersama. Seperti termaktub di dalam Al-Qur’an bahwa manusia tersusun atas 3 komponen dasar yaitu :

    1.Jasad
    2.Jiwa / Nafs
    3.Ruh

Ayat-ayat yang berhubungan :

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur” … (QS As-Sajdah 32:9).

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” … (QS Asy-Syam 91:7-10)

Dari ayat-ayat di atas jelaslah dari ke 3 komponen tersebut memiliki dzat yang berbeda-beda tetapi menjadi dalam satu wadah yaitu jasad. Bagimana memahaminya ? Sebenarnya mudah saja dengan meneliti ayat di bawah ini :

“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).

Maka dipakailah cahaya sebagai gambaran. Ruh adalah cahaya yang ditiupkan Allah hanya ke dalam tubuh manusia. Maka berawal qolbu manusia adalah Baitullah. Karena di qolbulah ditiupkan ruh tersebut. Qolbu digambarkan sebagaimana gelas yang berada di dalam rumah atau tubuh. Apabila gelas tersebut berada di dalam lautan jiwa yang bersih dan bening berkilauan maka cahayanya akan memancar ke seluruh tubuh dan pada akhirnya akan memancar keluar dari tubuh. Maka jiwa-jiwa yang lain akan melihat pancaran cahaya tersebut dengan bentuk sama dengan tubuh yang dihuni.

Sebagaimana cahaya yang tak berbentuk, tetapi apabila cahaya tersebut berada di dalam lampu neon maka kita akan melihat bentuk cahaya itu seperti lampu neon.

Maka itulah pentingnya keberadaan sang pembimbing yang akan menjadi tolok ukur kita dalam membedakan mana cahaya iblis dan mana cahaya Allah dalam usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga kita tidak tersesat dengan mengikuti bisikan setan yang menghembus dari dalam hati. Karena jelaslah bahwa wajah rasulullah dan para pewarisnya tidak akan mampu ditiru oleh iblis, setan ataupun jin. Karena setiap unsur di dalam tubuhnya telah tersinari oleh cahaya Ruh yang suci yang pada firman-Nya disebutkan sebagai ruh-Nya.

Maka sebenarnya setiap manusia didalam qolbunya telah tertanam ruh-Nya yang merupakan satu-satunya komponen di dunia ini yang bisa menghubungkan kita dengan Allah. Tetapi dalam proses dari lahir sampai remaja hingga dewasa qolbu tersebut terhijab oleh lautan jiwa yang kotor sehingga cahaya-Nya semakin tertutup dan akhirnya redup. Maka apabila jiwa yang telah rusak tadi sering berkumpul dengan jiwa yang telah tenang/suci (sang pembimbing), maka lambat laun jiwa yang kotor tersebut akan menjadi suci sehingga cahaya ruh yang terhijab tadi kembali bersinar dan siap untuk menyinari jiwa-jiwa yang lain atau menjadi rahmat bagi sekitarnya. Sebagaimana kawat biasa apabila bersentuhan dengan kawat berlistrik maka kawat biasa tersebut bisa menyengat. Tapi apabila dipisahkan maka kawat tersebut akan menjadi kawat biasa.

Maka dapat disimpulkan selama jiwa-jiwa tersebut tidak memutuskan tali dengan jiwa sang pembimbing yang telah tenang/suci maka  cahaya Allah akan selalu terpancar di setiap sel tubuh kita dikarenakan hanya jiwa yang tenang/suci yang bisa mengimbaskan ketenangan/kesucian.

“Hai jiwa (nafs) yang tenang (suci). Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan (hati) ridha dan diridhai (Tuhan). Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kalian ke dalam surga-Ku” … (QS AL-Fajr 89:27-30)

Hubungan tersebut tidak terputus walau sang pembimbing telah berpulang. Karena tiada yang mati bagi para pejuang sabilillah. Dengan syarat sang murid pernah bertemu secara lahir dengan sang pembimbing di saat masih hidup.

“Janganlah kamu katakan mati orang-orang yang terbunuh pada sabilillah, bahkan mereka hidup, tetapi kamu tiada sadar” … (QS Al-Baqarah 2:154).



Dan dalam sebuah riwayat Rasulullah menyatakan bahwa kondisi dzikir Abu Bakar yang merupakan perang terhadap hawa nafsu adalah perang jantan dan kondisi Ali yang mengikuti perang badar adalah perang betina.

Dari uraian di atas semoga dapat membangkitkan semangat kita bersama untuk semakin memperkuat  keyakinan dan harapan kita akan hari perjumpaan kita dengan-Nya. Karena tiada lagi yang bisa kita perbuat selain menggantungkan harapan kita kepada Allah dan sehingga pada saatnya nanti kita akan dipertemukan dengan utusan-Nya yang akan membimbing kita kehadirat-Nya.

“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).

Dan semoga apabila Allah telah berkenan untuk mempertemukan kita dengan utusan-Nya maka kita diberikan kekuatan untuk bersabar di jalan tersebut. Sehingga pada akhirnya terciptalah umat percontohan yang benar-benar mengamalkan Al-Qur’an tanpa paksaan dikarenakan ketiga komponennya sudah harmonis dengan ruh-Nya yang pada gilirannya akan menampilkan sosok-sosok manusia yang menyandang sifat-sifat Allah. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya dan Allah tiada pernah mengingkari akan janji-Nya.
Untuk Apa Kita Ada?

Kalau direnungi secara dalam, seorang manusia hadir di dunia benar-benar hanya sesaat saja, seperti sekejab mata jika di bandingkan dengan usia bumi yang sudah sangat tua. Ibarat matahari yang nampak terlihat, terbit dan tenggelam begitu lah perjalanan hidup manusia di dunia ini. Yang membedakannya, matahari terbit dan tenggelam kemudian terbit lagi dan tenggelam lagi dan seterusnya, sementara seorang manusia terbit dan tenggelam, kemudian tidak akan pernah terbit lagi untuk selamanya.
Kehidupan yang sesaat diberikan oleh Tuhan kepada manusia tidak lain agar manusia bisa memberikan pengabdian terbaik kepada-Nya, kepada sesama manusia dan seluruh alam sehingga manusia tersebut benar-benar menjadi orang yang bermanfaat. Sebagian lahir dengan mengikuti kodrat alamiah manusia sebagai pengabdi untuk membuat kehidupan di bumi menjadi lebih baik.
Sementara sebagian manusia hidup di dunia ini dalam kondisi tidak kreatif, lahir menjalani kehidupan, kemudian meninggal dunia, berlalu seperti debu yang tertiup angin di musim panas. Kehadiran dan ketidakhadirannya di dunia tidak memberikan pengaruh apa-apa, dan inilah kebanyakan manusia.
Ada juga manusia yang hadir di dunia ini memberikan warna hitam, kehadirannya mempersuram kehidupan di muka bumi dengan berbagai kerusakan yang dilakukannya. Setelah dia berlalu sesuai dengan umur yang diberikan Tuhan, dia kemudian meninggalkan warisan hidup berupa kekacauan dan ketidakserasian.
Tentang hal ini, saya teringat pertanyaan Guru kepada saya, “Untuk apa Tuhan menciptakan daun jelatang?”. Jelatang adalah salah satu jenis semak yang batang dan daunnya sangat gatal bila disentuh. Jelatang sepintas lalu tidak bisa dimanfaatkan untuk apapun oleh manusia, hanya mengganggu saja. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Guru tentang jelatang tersebut dan kemudian Beliau menjawab sendiri, “Untuk meramai-ramaikan dunia”.
Jadi kehadiran Jelatang di muka bumi ini hanya untuk membuat bumi menjadi ramai, tidaka lebih dan tidak kurang. Lalu bagaimana kehadiran kita di dunia yang fana ini? Apa sama dengan Jelatang?
Tuhan menciptakan rumput untuk dimakan kambing, Tuhan menciptakan kambing untuk dimakan manusia, Tuhan menciptakan manusia untuk?
Tuhan menciptakan plankton untuk di makan ikan, Tuhan menciptakan ikan untuk dimakan manusia, Tuhan mencipakan manusia untuk?
Kalau kita tidak mengetahui untuk apa tujuan Tuhan menciptakan manusia, berarti kehadiran kita di dunia ini sama dengan kehadirat ikan, rumput, kambing dan lain-lain, hanya sebagai pelengkap agar dunia ini menjadi ramai.
Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan yang sangat istimewa, untuk mengabdi kepada-Nya lewat ibadah dan lewat aktifitas sehari-hari yang bisa memberikan manfaat kepada semua. Nabi juga pernah memberikan nasehat tentang hal ini dimana manusia terbaik menurut Beliau adalah manusia yang paling bermanfaat untuk sesama.
Semakin memberikan manfaat kepada sesama, maka semakin baik nilai manusia dimata Allah dan Rasul-Nya. Atas dasar itu, harapan Nabi kepada Ummatnya agar dalam kehidupan yang dijalani hendaknya bisa menjadi rahmat bagi keluarga, lingkungan dan bisa menjadi rahmat bagi seluruh Alam.
Dalam kehidupan yang sangat singkat ini, mari kita renungkan dalam-dalam tentang apa yang telah kita lakukan di dunia ini, apakah telah sesuai dengan tujuan penciptaan sebagai pengabdi yang memberikan manfaat untuk semua atau keluar dan tujuan tersebut, memberikan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan manusia dan makhluk lain.
Semoga kita termasuk jenis manusia yang kehadiran kita di dunia dalam waktu singkat bisa memberikan warna indah bagi dunia dan isinya sehingga ketika kita kembali kehadirat-Nya akan disambut oleh Allah dengan penuh kerinduan, karena kita telah menyelesaikan tugas-Nya sebagai penyebar kebaikan di muka bumi.
Amin ya Rabbal ‘Alamin
COBAAN TUHAN ???


Tuhan menciptakan Alam dan seluruh isinya dan kemudian Tuhan juga menciptakan hukum-hukum di alam yang disebut dengan Sunatullah. Sunatullah itu bersifat universal dan berlaku untuk semua tanpa membedakan orang per orang.
Tuhan menciptakan udara dan air sebagai sumber kehidupan, siapun yang hidup di dunia ini apakah dia beriman atau tidak, menyembah Allah atau tidak tetap bisa menikmati yang namanya air dan udara.
Tuhan menciptakan bumi, menciptakan tanah beserta hukum hukumnya, siapa yang menabur biji dia akan menuai. Kalau yang ditanam padi maka sesuai hukum Alam apabila rawat sesuai rukun dan syaratnya akan mendapatkan hasil berpuluh atau beratus kali lipat.
Siapun yang menanam, apakah dia Islam, Kristen, Yahudi atau bahkan penyembah berhala sekalipun apabila memenuhi syarat syarat yang telah ditentukan oleh Allah sebagai pencipta dan pemilik alam akan mendapatkan hasil.
Sunatullah tidak ada hubungan dengan yakin atau tidak kepada Tuhan, taat atau lalai, beriman atau kafir.
Tidak hanya hukum alam, hal hal lain juga Tuhan telah mengatur sesuai dengan aturannya.
Sebagai contoh sederhana misalnya untuk menanak beras agar bisa menjadi nasi agar bisa dimakan harus memenuhi rukun syaratnya. Hal2 yang harus dipenuhi dalam menanak nasi :
Ada beras, tanpa beras apa yang mau dimasak?
Ada wadah (periuk, belanga, dll) tanpa wadah maka beras akan berserakan tidak akan pernah bisa di masak.
Ada air, tanpa air maka beras akan menjadi gosong tak akan pernah menjadi nasi.
Ada api (listrik) tanpa ada api atau alat untuk memanaskan maka sampai kiamat beras tidak akan pernah menjadi nasi.
Ada ahli masak (orang yang memasak), 4 syarat telah terpenuhi (beras, wadah, air dan api) kalau tidak ada yang memasak maka beras tidak akan bisa berubah menjadi nasi.
Pertanyaannya apakah menanak nasi ada hubungan dengan akidah, keyakinan, keimanan?
Jawabannya: TIDAK?
Orang yang taat ibadah sekalipun kalau tidak paham cara menanak nasi maka sampai kiamat pun nasi itu tidak akan jadi sebaliknya orang jahat, atheis atau penyembah berhala sekalipun kalau dia mengetahui ilmu menanak nasi maka dia akan mendapatkam nasi.
Begitu juga dengan hal lain, semua ada aturan dan hukum hukumnya.
Itulah sebabnya kenapa orang orang yang ahli di dunia ini kebanyakan non muslim, karena mereka belajar, menyelidiki dengan sungguh2 tentang hukum hukum yang berlaku di alam.
Tuhan telah menciptakan manusia dengan sempurna dan memberikan manusia kemampuan untuk berfikir sehingga manusia bisa memahami hukum yang ada di alam dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Orang yang menjaga kesehatan pasti akan mendapatkan kesehatan sebaliknya orang yang tidak menjaga kesehatan akan mengalami sakit, ini tidak ada hubungan dengan ibadah.
Rasulullah SAW junjungan kita termasuk orang yang sehat sepanjang hidup bahkan Beliau hanya pernah sakit satu kali. Kenapa? Karena dalam keseharian Beliau menerapkan pola hidup sehat. Pola makan Nabi juga sehat, Beliau bersabda, “”Perut itu rumah (sumber) penyakit. Dan obatnya adalah pencegahan” dalam riwayat lain Nabi menganjurkan agar perut kita isinya dibagi menjadi 3 yaitu sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara atau anjuran Beliau makanlah sesudah lapar dan berhentilah sebelum kenyang.
Cara makan Nabi juga ada adab atau kesopanan yang selalu diterapkan oleh Nabi setiap saat.  Pertama-tama, makan dalam keadaan bersih, setidaknya, tangan harus sudah dicuci bersih. Makanan agar jangan terlalu panas. Selanjutnya membaca basmalah. Kemudian memakan sedikit garam. Makan dengan tangan kanan dan jangan menyuap makanan dalam jumlah yang banyak ke dalam mulut. Melainkan sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam mulut.
Selanjutnya, harus mengunyah makanan sampai halus, jangan minum di tengah-tengah makan, duduk yang lama, mengambil makanan yang lebih dekat, jangan menatap mata, dan disunnahkan setiap kali suapan, dalam pikiran kita mengucapkan rasa syukur atas rezeki dari Allah swt.
Adab makan lainnya adalah menggunakan jari dan sebisa mungkin tidak menggunakan sendok atau garpu kecuali makanan yang mengharuskan untuk itu. Nabi juga menganjurkan melengkapi makanan dengan sayur mayur. Sebelum minum, hendaknya makan sedikit garam lagi. Selesai makan, mengelus perut dari atas ke bawah. Jika ada sisa makan pada jari, dianjurkan untuk dijilat. Dan terakhir, mencuci tangan. Siapapun yang mengikuti pola hidup sehat seperti Nabi akan bisa sehat walaupun ibadahnya kurang bahkan tidak beribadah sama sekali.
Saya pernah membaca, seorang dokter non muslim sejak umur 20 tahun sampai umur 70 tahun, selama 50 tahun tidak pernah mengalami sakit walaupun hanya sekali sementara orang yang ibadahnya sangat rajin karena tidak mengetahui ilmu bagaimana menjaga kesehatan dengan baik sering kali mengalami sakit. Sekali lagi masalah kesehatan tidak ada hubungan sama sekali dengan ibadah atau keimanan.
Sering kali kita mengatakan sebagai “cobaan Tuhan” ketika kita gagal, padahal kegagalan itu terjadi karena kita tidak mengetahui hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan atau salah menerapkan hukum yang telah dibuat oleh Tuhan. Seorang Guru Sufi mengatakan, “Tuhan hanya memberikan cobaan dan ujian kepada Wali-Nya, sedangkan orang awam apa yang dialami akibat kesalahannya sendiri”. Dari pada kita fokus kepada cobaan yang belum tentu itu sebuah cobaan, lebih baik kita merenungi, memperbaiki hal-hal yang membuat kita gagal dalam segala aspek kehidupan. “Salah dulu baru Benar” begitu nasehat Guru kepada saya, nasehat itu menjadikan semangat bagi kita untuk terus belajar, belajar dan belajar dalam segala hal agar kita terus bertumbuh, berkembang menjadi manusia yang lebih sempurna.
Tulisan ini mudah-mudahan bisa menjadi renungan kita semua agar tidak dengan mudah menyalahkan Tuhan ketika kita mengalami hal-hal buruk dalam hidup atau mengalami kegagalan.
PUASA DAN BIDADARI

Melaksanakan shalat tarawih malam pertama Ramadhan sungguh menyenangkan, suasana ramai dan meriah, orang yang tidak pernah datang ke mesjid di bulan-bulan sebelumnya tiba-tiba muncul dengan busana muslim lengkap dengan peci haji sebagai lambang kesalehan. Bulan Ramadhan seperti tahun-tahun yang lalu berhasil mengajak sebagian besar kaum muslim di seluruh dunia untuk memperbanyak ibadah, mengisi kekurangan selama bulan-bulan yang lain, dengan harapan menjadi orang yang Taqwa sebagaimana ayat (Al-Baqarah, 183) yang sering di baca oleh Imam atau Penceramah, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ber puasa sebagaimana Telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”
Semalam penceramah menceritakan tentang pahala ibadah di bulan Ramadhan, imbalan berlipat ganda, dia ceritakan pahala malam pertama sampai malam ke-30, sekalian dihitung jumlah shalat wajib dikalikan 70 dan shalat sunnat di hitung sebagai shalat wajib. Angka yang keluar luar biasa! Saya jadi heran, ini ustad penceramah atau guru matematika ya? 
Apa memang tujuan puasa untuk mengharapkan imbalan semata-mata? Mengharapkan pahala? Bukankah setiap ibadah dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa-apa selain karena Allah semata-mata.
Siang kemarin saya singgah disebuah mesjid untuk shalat dhuhur berjama’ah, setelah selesai shalat diadakan ceramah oleh sekelompok orang berjubah putih dan berjanggut. Pimpinan mereka memberikan pengumuman kepada seluruh jamaah mesjid: “mari merapat, mari membuat lingkaran, kita mengikuti sunnah nabi, zaman Rasulullah SAW ketika Beliau ceramah seluruh sahabat mengelilingi Beliau”. Saya ikut merapat dalam lingkaran tersebut. Ceramahnya dimulai dengan puji-pujian kepada Allah SWT kemudian shalawat kepada Nabi, kemudian diteruskan dengan kata-kata dalam bahasa Arab sampai 15 menit lamanya, saya jadi bingung, ini mau ceramah biasa atau khutbah Jum’at ya? Tiba-tiba penceramah tadi mengakhiri ceramahnya dengan “wasalammu’alaikum wr.wb”.  Kemudian disambung oleh penceramah kedua, mirip juga dengan penceramah pertama, Cuma yang ini dilanjutkan dengan bahasa Indonesia.
Penceramah kedua menceritakan pahala puasa, pahala jihad dan berbagai pahala lainnya, pokoknya semua tentang pahala. Juga diceritakan tentang bidadari di surga. Topik tentang bidadari ini yang mengganggu pikiran saya karena penceramah menceritakan tentang bidadari lengkap sekali, mulai keindahan tubuhnya sampai bagaimana para bidadari itu nanti menyambut suami nya, yaitu orang yang mendapat pahala surga. Cerita tentang keindahan bidadari ini dikemas sedemikian rupa sehingga hampir mendekati cerita-cerita romantis yang bisa merangsang pendengarnya.
Saya jadi tertegun, kalau model begini ceramahnya bukan hikmah yang didapat tapi bisa membatalkan puasa karena bisa menimbulkan rangsangan serta bisa membuat orang menghayal tentang wanita cantik. Ketika ceramah berakhir dan jamaah bubar, saya melihat sekelompok anak muda berumur sekitar 17-an keluar mesjid dengan wajah yang memerah dan ceria. Saya dekati mereka: “dik, ceramah tentang bidadari tadi keren ya?”, “keren kali bang, mudah-mudahan saya dapat pacar seperti itu” jawabnya sambil tertawa, teman-teman dia yang lain juga ikut tertawa. Mudah-mudahan saja pulang dari mesjid anak muda ini tidak kawin dengan syetan, ber onani sambil membayangkan wanita secantik bidadari.
Mengharapkan surga dengan segala kenikmatannya merupakan hal yang wajar, akan tetapi kita harus hati-hati karena  bisa mengurangi keikhlasan kita dalam beribadah. Penceramah tidak menceritakan bahwa kenikmatan tertinggi di dalam surga kelak adalah memandang wajah Allah bukan menggauli bidadari. Penceramah lupa menceritakan bagaimana kedudukan wanita di surga, kalau satu orang pria mendapat ribuan bidadari apakah wanita dapat ribuan suami juga??
Bagi saya ibadah tidak lain untuk mengharapkan ridho Allah semata. Saya selalu bersyukur kehadirat-Nya karena di dunia ini telah diberi kesempatan untuk memandang wajah-Nya sebagai kenikmatan luar biasa yang dijanjikan kelak di akhirat kepada penduduk surga. Saya tidak lagi mengharapkan surga beserta ribuan bidadari nya. Allah telah memberikan wajah-Nya untuk saya pandang disetiap zikir dikala malam telah larut untuk mengobati rasa rindu yang menyesakkan dada. Dia selalu hadir dalam mimpi-mimpi saya, dalam setiap hembusan nafas dan setiap derap langkah dalam menapaki hidup di dunia ini.   Allah juga menganugerahkan saya seorang wanita sebagai istri, bagi saya dialah bidadari yang dijanjikan itu dan saya selalu mensyukuri atas segala karunia-Nya. Wallahu’alam!

KEMATIAN!!!

Kematian, seberapapun keras usaha manusia untuk menghaluskan kata tersebut seperti “berpulang ke rahmatuLLAH”,”telah ditinggal pergi”,”meninggal dunia”,”menghadap Sang Pencipta”,… tetap saja tidak mampu mengurangi rasa yang sesungguhnya dari sebuah kematian. Nyawa atau ruh adalah peluru yang sesungguhnya setelah ditembakkan meninggalkan selongsongnya. Selebihnya adalah jasad, wadah yang digunakan oleh ruh untuk berbuat di dunia. Kematian adalah pintu masuk kealam barzah dari alam dunia, demikian kata ustadz yang suka berpakaian serba putih itu dalam khutbahnya di TV.
Kematian begitu menakutkan banyak orang (termasuk saya sendiri), baik bagi yang menghadapi kematian maupun yang ditinggal mati. Pertanyaannya adalah apa sebenarnya yang membuat kematian itu begitu menakutkan? Mari kita simak! Kalaulah anda lihat orang orang yang ditinggal mati bersedih lalu berkata ‘tiada lagi tempat kami mengadu’ atau “dulu aku selalu ada yang menemani, kini tinggal aku sendiri’, atau “bagaimana dengan sekolahku, siapa yang akan membiayai?’ dan kalimat kalimat yang sejenis maka ketahuilah bahwa sifat egois telah menguasai orang orang yang ditinggal mati tersebut, dan memang seperti inilah kebanyakan yang kita jumpai. Orang orang yang gembira terhadap kematian orang lain karena berharap akan jatuhnya klaim asuransi juga digolongkan dalam kelompok ini.
Apa sebenarnya yang membuat orang yang menghadapi kematian begitu menakutkan? Bagaimana reaksi perasaan anda ketika anda divonis mati oleh hakim atau dokter? Mungkin anda pernah  melihat bagaimana terdakwa kriminal bersikap terhadap putusan ini? Atau seorang pasien kanker ganas yang takkan terobati dan tinggal menunggu waktu maut menjemput? Kenapa takut? Mereka gelisah, apa sebabnya? Makan tak sedap, tidur tak nyenyak, hidup tak bergairah, sampai sampai seorang terpidana mati yang baru baru ini dieksekusi menulis ‘bukan kematian yang aku takutkan tapi menunggu keputusan yang sangat menyiksa’, sesungguhnya dia juga takut mati karena yang dia tunggu adalah keputusan hukuman mati atau tidak.Bisa jadi bagi mereka kehidupan di dunia sekarang adalah segala-galanya, walaupun pengetahuan setelah kematian ada kehidupan lain sudah dijejal ke otak mereka, sikap ketakutan akan kematian telah memperlihatkan secara jelas siapa sebenarnya dirinya. Seperti pepatah barat mengatakan “everyone wish to heaven, but no one willing to die (semua orang ingin masuk surga, tapi tidak ada seorangpun yang mau mati)”, ironis memang…
Atau bagi yang merasa setelah kematian ada kehidupan, merasa amal perbuatannya masih belum cukup alias masih banyak dosa dan sedikit pahala. Apakah anda pernah menjadi saksi jiwa jiwa yang sedang sekarat, mulut menganga mata melotot, nafas terhenti satu satu seperti tercekik? Sebagian memang terlihat mengerikan dan anda takut karena teringat hal hal yang menyeramkan saat tubuh merenggang nyawa, dan anda semakin takut mereka-reka siksa kubur oleh Nunkar dan Nankir yang super dahsyat menunggu anda, sampai kiamat untuk menerima azab sesungguhnya yang abadi! Wow!!!
Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kita semua tidak beralih kepada kematian yang menyenangkan, menyenangkan bagi yang menghadapi kematian dan menyenangkan bagi yang ditinggalkan. Lho kok bisa..?! Logikanya sederhana, bukankah sebaiknya anda sesegera mungkin mati jika anda mengetahui pada detik ini seluruh dosa dosa anda diampuni dan anda dijamin masuk surga, sebelum anda melakukan dosa berikutnya? Apakah ada orang orang yang memiliki riwayat mati menyenangkan? Para sahabat di zaman Nabi yang berjihad untuk ALLAH tidak hanya senang mati, tapi mereka memang mencari mati! Tapi tentu saja mereka tidak bunuh diri dengan membiarkan tubuh mereka ditombak dipanah dibacok begitu saja oleh musuh ALLAH. …dan kita juga mengetahui bahwa TUHAN menjanjikan surga buat mereka.
Menyenangkan bagi orang yang menghadapi kematian karena dia tahu bakalan masuk surga dan menyenangkan bagi orang orang yang ditinggal mati karena tahu orang yang mereka cintai masuk surga. Bagi mereka yang akan menjalani proses sakratul maut juga tak perlu resah karena mati seperti orang yang berangkat tidur, rebah dikasur lalu dengan sekali tarikan nafas panjang langsung terlelap, bedanya cuma terlelap untuk selama lamanya.
Saya mengajak anda bukan sebagai orang yang sudah berpengalaman, saya mengajak anda karena hal tersebut masih sangat mungkin dicapai. Contoh orang berjihad dengan Nabi adalah klasik dan jihad bukan satu satunya jalan untuk mencapai Khusnul Khatimah apalagi jihad yang sekarang banyak disangsikan. Mari kita menatap zaman di mana kita hidup sekarang.
Saudara sekalian, orang sakit, terbunuh, tenggelam, kecelakaan lalu lintas,… adalah alasan alasan agar TUHAN mencabut nyawa terdengar logis bagi manusia. TUHAN bisa saja mencabut nyawa anda seketika ketika anda sedang berdiri, duduk, berbaring apalagi sedang mengendarai mobil di lintasan Formula One! Bahkan bagi orang sakitpun yang  berusaha keras berobat untuk sembuh, kalau anda tahu ilmunya maka ‘tidak semua orang yang sakit harus sembuh!’
Maaf kawan, bukan saya tak hendak berbagi ilmu, mengutip kalimat Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Guide To Investing dalam pendidikan dasar CashFlow-nya, saya ingin mengatakan bahwa “Ilmu ini tidak bisa dipelajari dengan membaca”.
Lalu bagaimana agar mati bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan? GURU saya mengatakan “Matikanlah dirimu sebelum engkau mati!”. Oh apakah ini proses latihan? Maksudnya? GURUnya GURU saya (NENEK GURU) dalam sebuah kesempatan saya dengar rekaman fatwaNYA mengatakan “Kalau engkau tidak bisa berenang, kemanapun engkau pergi kau tak kan bisa berenang! Kalau kau tak kenal Tuhan di dunia, maka diakhiratpun kau tak kenal Tuhan!” Pelajarannya adalah ‘Kau tak akan masuk surga jika tak kenal yang punya surga!’ masalahnya TUHAN diakhirat nanti adalah TUHAN di dunia sekarang. Kesimpulannya, wajar saja kau takut mati dan atau ditinggal mati sebab kau tak kenal Tuhan! NENEK GURU juga mengkritik para ustadz ustadz yang mengatakan ‘shalatlah yang khusuk insya allah masuk surga’, masalahnya adalah ustadz ustadz itu tidak mampu mengajarkan bagaimana yang dimaksud dengan shalat yang khusuk. “Ajaran kok spekulatif dengan insya allah masuk surga, kalau tidak, apa mau kembali ke dunia?” demikian kata NENEK GURU saya. Bagi saudara saudara yang sangat yakin akan masuk surga karena amal ibadah saudara, ketahuilah jika masuk surgapun anda bukan karena banyaknya amal ibadah anda! Umatku tidak masuk surga karena ibadahnya, melainkan karena Ridha ALLAH SWT, demikian hadisnya bung! Jadi sebaiknya anda tidak usah menghitung-hitung pahala! Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana TUHAN meridhai anda jikalau anda berdua belum saling mengenal?
Anda akan merindui kematian bila anda mengenal TUHAN anda yang menjamin seluruh dosa anda diampuni dan memastikan anda masuk surga! Saya tambahkan GURU saya juga berucap “Orang orang berTUHAN yang mati sesungguhnya tidaklah mati, mereka tetap hidup…”

Dilangit Tuan berkata, Dibumi Tuan bersabda
Dilangit Tuan bertahta, Dibumi Tuan menjelma
 

Kamis, 17 Juli 2014

Tanda-Tanda Kematian Menurut Islam


PERHATIKAN dan RENUNGKAN. Apa yang anda PIKIRKAN? Bagaimana kalau yang di TANDU itu adalah ANDA? Suka atau tidak SUKA anda akan mengalaminya sekali dalam seumur hidup ANDA. Ini yang disebut dengan MATI. Awal dari kehidupan yang SESUNGGUHNYA !
Tanda-tanda kematian menurut ulama adalah benar dan nyata, hanya amalan dan ketakwaan kita saja yang akan dapat membedakan kepekaan kita kepada tanda-tanda ini. Rasulullah SAW diriwayatkan, masih mampu memperlihat dan menceritakan kepada keluarga dan sahabat secara langsung akan kesukaran menghadapi sakaratul maut dari awal hingga akhir hayat Baginda.
Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperolehi tanda-tanda ini sehingga beliau mampu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi sakaratulmaut secara sendirian. Beliau menyediakan dirinya dengan segala persiapan termasuk mandinya, wuduk serta kafannya, hanya ketika sampai bahagian tubuh dan kepala saja beliau telah memanggil abangnya yaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk menyambung tugas tersebut. Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafankan bahagian mukanya.
Adapun riwayat-riwayat ini memperlihatkan kepada kita sesungguhnya Allah SWT tidak pernah berlaku zalim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan kita umat Islam supaya dapat bertobat dan selalu siap dalam perjalanan menghadap Allah SWT.
Walau bagaimanapun, semua tanda-tanda ini akan berlaku kepada orang-orang Islam saja, sedangkan orang-orang kafir yaitu orang yang menyekutukan Allah, nyawa mereka ini akan dicabut tanpa peringatan sesuai dengan kekufuran mereka kepada Allah SWT.
Adapun tanda-tanda ini terdiri beberapa keadaan :

100 Hari Sebelum Hari Kematian

Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka-mereka yg dikehendakinya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini, hanya apakah mereka sadar atau tidak saja. Tanda ini akan berlaku lazimnya setelah waktu Asar. Seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki akan mengalami getaran, seakan-akan menggigil.
Contohnya seperti daging sapi/kambing yang baru disembelih, dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya nikmat, dan bagi mereka yang sadar dan berdetak di hatinya bahwa mungkin ini adalah tanda kematian maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah sadar akan kehadiran tanda ini.
Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian , tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa ada manfaat. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

40 Hari Sebelum Hari Kematian

Tanda ini juga akan terjadi sesudah waktu Asar. Bagian pusat kita akan berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di atas Arash Allah swt. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persediaannya ke atas kita antaranya adalah ia akan mulai mengikuti kita sepanjang waktu.
Akan terjadi malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.

7 Hari Sebelum Hari Kematian

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah sakit di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba- tiba dia berselera untuk makan.

3 Hari Sebelum Hari Kematian

Pada masa ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat diketahui/ dipahami maka berpuasalah kita setelah itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti.
Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan turun, dan ini dapat diketahui jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bahagian ujungnya akan berangsur-angsur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

1 Hari Sebelum Hari Kematian

Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di bahagian ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

Tanda akhir

Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan dingin di bahagian pusat dan akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikatmaut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.
BERSIAP SIAPLAH, HARI ITU PASTI AKAN DATANG! SUDAH SIAPKAH BEKAL KITA?

Rabu, 16 Juli 2014

Mari Mengenal Allah Lebih Dekat | Ciri-ciri Orang yang Mengenal Allah

KAMIS , 17 - JULI - 2014

Mari Mengenal Allah Lebih Dekat


Sahabat, Sudahkah kita mengenal Allah? Dzat yang telah menciptakan kita, yang kemudian menganugerahkan kepada kita berbagai nikmat-Nya. Mungkin muncul pertanyaan, “kenapa saya harus mengenal Allah?” Jawabannya adalah, karena dengan mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Ma’rifatullah) dengan benar, maka hidup kita akan menjadi tenang baik di dunia maupun di akhirat. Kalau kita sudah mengenal Allah dengan benar, maka segala perilaku kita akan terarah, hidup kita mempunyai tujuan yang jelas, dan akan mampu membawa kemaslahatan yang besar bagi diri sendiri juga orang lain.

Untuk mengetahui apakah kita sudah termasuk orang yang mengenal Allah, kita bisa melihat sebagian ciri-ciri atau indikasi dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta keterangan para ulama salaf yang dapat kita jadikan sebagai pedoman dalam menjawab pertanyaan di atas:

Pertama; Orang Yang Mengenal Allah Merasa Takut Kepada-Nya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.” (QS. Fathir: 28)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….” (Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])

Kedua; Orang Yang Mengenal Allah Tulus Beribadah Kepada-Nya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Ibnu Mubarak rahimahullah mengingatkan, “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam oleh Ibnu Rajab).

Ketiga; Orang Yang Mengenal Allah Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “..Begitu pula hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allah, keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tentram dengannya, maka tidak akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allah, keinginan, rasa cinta dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya kecuali dengan mengosongkan hati tersebut dari ketergantungan terhadap selain-Nya. Lisan juga tidak akan mungkin digerakkan untuk mengingat-Nya dan anggota badan pun tidak akan bisa tunduk berkhidmat kepada-Nya kecuali apabila ia dibersihkan dari mengingat dan berkhidmat kepada selain-Nya. Apabila hati telah terpenuhi dengan kesibukan dengan makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat maka tidak akan tersisa lagi padanya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allah serta mengenal nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 31-32)

Keempat; Orang Yang Mengenal Allah Selalu Mengingat Akherat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan malapetaka) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.” (HR. Muslim)

Kelima; Orang Yang Mengenal Allah Tidak Tertipu Oleh Harta
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.” (HR. Bukhari). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari)

Keenam; Orang Yang Mengenal Allah Akan Merasakan Manisnya Iman
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman…” Di antaranya, “Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan lezatnya iman orang-orang yang ridha kepada Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim).

Ketujuh; Orang Yang Mengenal Allah Mencurigai Dirinya Sendiri
Ibnu Abi Mulaikah -salah seorang tabi’in- berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluhan orang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa sangat takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari secara mu’allaq).

Demikian beberapa ciri yang kami nukilkan dari Al Quran & As-Sunnah serta beberapa pendapat para salaf. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk termasuk dalam golongan mereka.
MENGENAL ADANYA ALLAH SWT

Ajaran tauhid, telah ada dalam jiwa manusia sejak Nabi Adam as sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah swt di muka bumi.
Sesungguhnya Allah swt, menurunkan agama islam (ajaran tauhid) untuk manusia adalah untuk memuliakan manusia itu sendiri, bukan untuk menyengsarakan hidup manusia. Dengan ajaran agama islam ini, diharapkan manusia dapat mengenal Allah swt. Mengenal kekuasaan Nya, kebesaran Nya dan keagungan Nya, sehingga manusia dapat beriman kepada Nya dengan sebenar-benarnya iman yang akan menimbulkan rasa cinta terhadap Allah swt.
Lalu apa tauhid (Aqidah)? Aqidah berasal dari kata 'aqada-ya'qidu-'aqdatan yang berarti simpulan ikatan perjanjian yang kuat. Kemudian bentuk kata ini berubah menjadi 'aqidatan ('aqidah) berarti ikatan kepercayaan dan keyakinan kebenaran yang kuat dalam hati. Sedangkan secara etimologis /istilah berarti " Suatu kebenaran yang dapat diyakini dalam dalam hati dengan penuh kemantapan, sehingga terhindar dari keragu-raguan, berdasarkan ayat-ayat qauliyah (Al Quran) maupun ayat-ayat kauniyah (alamiah) yang dapat dibuktikan dengan hukum alam dan pengetahuan."
Keimanan/keyakinan manusia itu bertingkat-tingkat, untuk membuktikan keyakinan yang mapan, maka dapat dianalisa dengan tiga tingkat :
Tingkat pertama disebut ilmul yakin : yaitu suatu keyakinan yang didapat berdasarkan ilmu dan pengetahuanya, berupa teori, ibarat kita melihat asap , maka kita akan yakin bahwasanya ditempat tersebut pasti ada api.
Tingkat kedua disebut ainul yakin, sebagai peningkatan ilmu dari ilmul yakin. Untuk lebih meyakinkan kebenaran perkiraan kita terhadap hal tersebut tadi, maka kita menuju ketempat dimana kita perkirakan api sedang berkobar. Dari kejauhan kita dapat melihat jilatan api yang menambah keyakinan kita akan adanya kebakaran (penelitian dan observasi).
Tingkat ketiga disebut Haqqulyakin. Setelah kita melihat jilatan api , makin mendekat makin terasa juga panasnya, barulah kita percaya sepenuhnya bahwa dugaan kita tadi ternyata benar dan tak perlu diragukan lagi
Ma'rifatullah
Allah swt adalah Dzat yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Kekuasaan Nya tidak terbatas, kekuatan Nya tidak dapat diukur, keluasan ilmu Nya tidak dapat diketahui, kebesaran Nya tidak dapat ditandingi oleh siapapun. Karena itu keaguangan dan kebesaran hanyalah milik Allah swt. Sedangkan manusia, betapapun hebat dan unggulnya, ia hanyalah salah satu makhluk dari berjuta-juta makhluk Allah swt yang sangat membutuhkan pertolongan dan perlindungan dari Nya.
Apabila manusia menyadari hakikat tersebut maka ia pasti akanberiman tunduk dan patuh kepada Allah swt. Merendahkan dihadapan Nya dan menerima kebenaran dengan tulus dari siapapun juga. Sebab hakikatnya kebenaran datangnya dari Allah swt (QS. 2:147)
Oleh karena itu semakin orang mengenal Allah swt, maka akan semakin kuat imanya dan semakin takut kepada Nya.
Satu hal yang sangat penting dalam hidup manusia di dunia yang sementara ini adalah bagaimana manusia itu dapat menyempunakan imanya sehingga ia dapat mati membawa kalimat iman, kalimat"laailaha illallah" dan amal sholeh sehingga ditolong oleh Allah swt dari adzabNya, masuk kedalam surga Nya.
Untuk menumbuhkan keimanan yang sempurna kepada Allah swt, maka kita harus berusaha, tanpa berusaha tidak mungkin keimanan itu datang dengan dengan tiba-tiba. Untuk mendatangkan keimanan yang sempurna kita perlu mengenal siapa itu Allah swt (Ma'rifatullah).
Ma'rifatullah berasal dari kata Ma'rifah berarti mengenal, mengetahui,. Yang perlu ditekankan, mengenal Allah bukan lewat dzatNya melainkan mengenal Allah lewat ayat-ayatNya dan tanda-tanda kebesaran Allah swt.
Urgensi Ma'rifatullah
Orang yang mengenal Allah swt denga sebenar-benar pengenalan, akan menyadari bahwa Allah swt yang Maha kuasa, Maha Kaya, Maha Perkasa dan Maha Bijaksanatidak membutuhkan sesuatupun dari manusia. Karenanya bila mendapatkan kebaikan maka akan memuji Allah swt dan bersyukur kepada Nya, tidak menyombongkan diri atau lupa diri, sebab ia tidak akan mampu berbuat apapun tanpa bantuan dan pertolongan Nya dan bila mendapatkan keburukan maka segera melakukan instropeksi.
Orang yang telah mengenal Allah swt akan menyadari tugas yang harus ia emban dalam kehidupan di dunia ini yaitu beribadah kepada Nya untuk mencari keridhaan Nya. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah swt, akan menyombongkan diri di dunia ini, dan manusia yang menyombongkan diri sama saja menantang Allah swt dan menjadikan dirinya sebagai saingan bagi Nya. Orang yang menyobongkan diri adalah orang yang tidak mengenal pencipta dan pengatur jagad raya ini yaitu Allah swt.

Dengan mengenal Allah maka kita dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan hidup kita (QS 51:56) dan tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia, kita akan merasakan kehidupan yang lapang walau bagaimanapun keadaan dan seberat apapun masalah yang dihadapi. Karena kita yakin Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hamba Nya dan akan kegelapan dan kebodohan menuju cahaya yang terang (QS.6:122).

Maka sungguh beruntung, apabila seseorang itu kenal dengan Allah sehingga dicintai dan ditolong oleh Allah swt, maka dia akan mendapatkan segala-galanya, bahagia, sukses selama-lamanya di surga Nya.

Cara Mengenal Allah Swt

Lalu bagaimana kita dapat mengenal Allah dengan sebenar-benarnya? yaitu dengan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat kauniyah) dan merenungi & mentadaburi ayat-ayat Al Quran, serta dengan memahami Asmaul Husna.

Ayat-ayat kauniyah Allah swt adalah menunjukan kesempurnaan kekuasaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Nya. Matahari adalah salah satu ayat Allah sampai kelak Allah menghancurkanya. Matahari selalu bergerak, berjalan di tempat peredaranya, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Yasin ayat 38.

Sesungguhnya Allah swt adalah Dzat yang menciptakan semua makhluk. Semua makhluk baik yang besar maupun yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak, yang kasar yang halus, yang ada di bumi, dilangit, diatara langit dan bumi, yang ada di laut maupun di dasar laut, semuanya adalah ciptaan Allah swt. Dialah Dzat yang Maha menciptakan (Kholik).

Allah swt adalah Dzat yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Maka kita tanamkan perasaan dalam hati kita bahwasanya kita itu selalu dilihat, didengar, dan diketahui, serta diawasi oleh Allah swt sehingga kita akan merasa malu untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Bila kita memiliki perasaaan seperti itu, malu untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Bila kita memiliki perasaan seperti itu, maka Allah akan berikan sifat ikhsan kepada diri kita, yamg mana dengan sifat itu kita akan dapat merasa seolah-olah melihat Allah swt ada dihadapan kita.

Sesungguhnya Allah swt, sangat dekat dengan diri manusia, bahkan lebih dekat dari urat lehernya, tetapi kenapa terasa jauh dan sulit untuk mengenal Nya. Karenadalam diri manusia ada dinding yang tebal antara lain :
  • Kesombongan (QS. 7:146, 25:21)
  • Taklid Buta (sikap meniru tanpa berfikir) (QS. 2:166-167, 170-171)
  • Keras kepala dan menentang (QS. 22:8-9, 6:7, 15:14-15)
  • Bersandar pada panca indera (QS. 2:55)
  • Dusta (QS. 7:176)
  • Ragu-ragu (QS. 6:109-110)
  • Banyak berbuat maksiat
Semua sifat diatas adalah bibit-bibit kekafiran yang harus dibersihkan dari hati. Sebab kekafiranlah yang menyebabkan Allah swt mengkunci mati hati manusia dan menutup mata dan telinga serta menyiksanya di neraka (QS. 2:6-7)

Iman kepada Allah swt

Apabila kita mengenal Allah, maka kita pasti akan beriman kepada Allah swt, semakin mengenal Allah maka semakin meningkat pula iman kita. lalu apa yang harus kita imani?

Pertama : Iman kepada kewujudan (adanya) Allah swt. Kewujudan Allah swt ini telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara' dan indera.

Perunjuk fitrah menyatakan kewujudan Allah. Karena segala makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fitrah itu kecuali hatinya telah termasuki oleh oleh sesuatu yang dapat memalingkanya dari fitrah itu. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW" Tiada yang terlahir melainkan ia dilahirkan di atas (dalam keadaan) fitrah. Maka kedua orang tuanya akan menjadikannya sebagai orang yahudi, nasrani, atau majusi."

Petunjuk akal menyatakan kewujudan Allah swt, karena semuruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada penciptanya yang menciptakanya. Tidak mungkin makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah swt dalan Al Quran surat At Thur ayat 35.

Ada baiknya jika kita mengambil satu contoh untuk lebih memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakaan kepadamu tentang sebuah istana yang megah, yang dikelilingi oleh berbagai tanaman, ada sungai-sungai yang mengalir diantara bangunan-bangunan istana itu, dipenuhi dengan berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai jenis perhiasan pada bangunan-bangunanya, lalu ia berkata kepada anda :" Sesungguhnya istana ini ada dengan sendirinya, tercipta oleh dirinya sendiri tanpa ada yang menciptakanya." Maka anda tentu langsung membantah hal itu serta mendustakanya dan pasti anda akan mengira dia itu orang gila.

Petunjuk Syari juga menyatakan kewujudan Allah swt, sebab semua kitab-kitab samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa itu datang dari Rabb yang bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan makhluknya.

Dan petunjuk indera mengenai kewujudan Allah swt dapat dilihat dengan mendengar dan menyaksikan dikabulkanya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongya orang-orang yang kesusahan, yang semuanya itu menunjukan adanya Allah swt (QS. Al Anbiya : 76, QS. Al Anfal : 9)

Dalam Shahih Bukhari disebutkan hadist dari Anas bin Malik ra bahwa orang badui masuk (ke dalam masjid) pada hari jumat, sementara nabi SAW sedang berkutbah. Orang itu lantas berkata :" Ya Rasulullah harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan. Maka berdoalah kepada Allah buat kami,"Akhirnya beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa. Tak lama kemudian , awan sebesar gunung pun tiba, sementara beliau masih diatas mimbar, sehingga aku lihat air hujan bercucuran pada jenggot beliau. Pada jum'at kedua (berikutnya), si arab Badui itu, atau lainnya, berdiri lantas berkata : Ya Rasulullah, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami.". Akhirnya beliaupun mengangkat kedua tanganya seraya berdoa : " Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami." Akhirnya, tidaklah beliau menunjuk pada suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan). Selain itu juga dengan ayat-ayat (tanda-tanda) para nabi as yang dinamakan mu'jizat.

Kedua : Iman kepada Rububiyah Nya. Artinya bahwa Allah adalah satu -satunya Rabb yang tak mempunyai sekutu maupun penolong. Rabb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah serta tiada yang berhak memerintah kecuali Allah (QS. Al A'raf : 54 & Fathir : 13)

Ketiga : Iman kepada Uluhiyah Nya. Artinya bahwa Allah adalah satu-satunya ilah yang Haq, tiada sekutu baginya, Kata ilah disini bermakna ma'lub yang berarti yang disembah/diibadahi atas landasan kecintaan dan pengagungan.

Keempat : Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Nya. Artinya menetapkan apa saja yang telah ditetapkan Allah bagi diri Nya yang tersebut dalam kitab Nya atau sunah RasulNya tentang nama-nama dan sifat-sifat sesuai dengan yang layak bagi Nya

Mencintai Allah swt

Sesungguhnya mengenai masalah mencintai Allah swt adalah suatu bab yang membutuhkan pemahaman yang serius dan harus dipelajari secara mendalam.

Sesungguhnya nikmat agama tak bisa dihitung dengan apa saja yang ada di dunia ini. Besarnya nilai iman, sehingga bila masih ada orang yang beriman walaupun hanya tinggal satu orang saja, maka Allah swt akan menunda kehancuran dunia.

Orang yang beriman kepada Allah swt maka akan timbul rasa cinta kepada Allah swt. Semakin besar keimananya maka akan semakin besarpula rasa cintanya kepada Allah swt dan rela mengorbankan segala potensi yang dia miliki untuk mentaati Allah swt.

Menurut sebagian ulama makna dari kalimat " Laailaha illallah" adalah bahwasanya tidak ada yang patut dicintai kecuali Allah swt semata (Illah adalah sesuatu yang pantas dicintai)

Begitu pula juga konsekuensi kita mengucapkan kalimat syahadad, kita harus berkorban demi mendapatkan kecintaan Allah swt. Contoh orang yang cintanya kepada Allah swt begitu besar sehingga beliau mau mengorbankan segala-galanya demi Allah swt adalah Nabi Ibrahim as. Begitu besarnya kecintaan dan pengorbanan beliau maka beliau dijuluki "Khalikullah" (Kekasih Allah).
ALLAH MAHA PENCIPTA SEGALANYA

Assalamu 'alaikum wr. wb.
nahmaduhu wanushalli ala rasulihil karim
ALLAH KHALIQ ( MAHA PENCIPTA )
Allah yang menciptakan . Semua planet dan bintang di ciptakan oleh Allah tanpa bantuan siapapun. Bagi Allah Swt. , menciptakan milyaran planet sama mudahnya dengan menciptakan sebutir pasir. Tidak ada susah baginya. Allah yang menciptakan tata surya, dan Allah pula yang mengaturnya.

Semua planet digerakkan oleh Alah Swt. pada porosnya masing –masing, dan tak ada satupun planet yang pernah tabrakan. Semua planet termasuk bumi bergerak pada porosnya tanpa mesin penggerak , bayangkan dengan kendaraan seperti mobil yang dibuat oleh manusia, yang tidak bisa bergerak kalau mesinnya tidak ada, atau mesinnya telah ada tapi bahan bakarnya telah habis. Akan tetapi, Allah Swt. membuat matahari yang besarnya ratusan kali dari bumi yang kita tempati, bergerak senantiasa istiqomah pada porosnya tanpa mesin dan bahan bakar dari jaman dahulu sampai sekarang.

Allah Swt. yang menciptakan matahari dan Dia pula yang mengatur jaraknya dari bumi. Jika Matahari jaraknya bergeser sedikit saja mendekati atau menjauhi bumi, maka bumi akan terbakar atau membeku. Allah Swt. yang menciptakan bulan, yang jika sedikit saja ia keluar dari garis edarnya, maka air laut akan pasang atau surut sampai hari kiamat.

Allah Swt. menciptakan sinar matahari. Matahari tidak bisa mengeluarkan sinar tanpa idzin Allah. Allah Swt kuasa, untuk menerangi suatu tempat tidak bergantung pada matahari, contohnya di dalam surga. Di surga tak ada matahari dan api, tapi keadaan di dalam surga selalu terang benderang, tak pernah gelap sekejap pun. Allah swt. mampu menerangi surga tanpa matahari, cahaya di dalam surga berasal dari cahaya wajah para ahli surga ! Allahu akbar !

Allah swt. dalam menciptakan matahari, bumi, bintang – bintang, dan planet-planet tidak memerlukan bahan baku terlebih dahulu. Beda dengan manusia, jika ingin membuat sesuatu, seperti mobil, computer, pesawat, ataupun benda – benda yang tidak memerlukan teknologi canggih seperti bata, genteng, dan sebagainya, maka manusia memerlukan bantuan alat, cetakan, pabrik besi, pabrik mesin, pabrik minyak, dan berjuta-juta karyawan yang memiliki berbagai dispilin ilmu dilibatkan. Tetapi Allah swt. dalam menciptakan makhluk_Nya mulai yang terkecil yang tak bisa dilihat oleh mata telanjang seperti virus, sampai makhluk yang paling besar , yang tak dapat diukur oleh alat apapun seperti galaksi bima sakti, yang terdiri dari dari milyaran planet, tidak memerlukan cetakan, bahan baku, gambar sketsa, atau alat apapun. Cukup dengan berfirman kun (jadilah) faya kun (maka jadilah ) !

Kita lihat telur ayam yang berbentuk lonjong tanpa memerlukan cetakan, bahkan makhluk yang tadinya mati, bisa keluar dari dalam telur itu padahal telur itu tak berpintu. Anak ayam itu berbulu, punya cakar, paruh, dan bisa bersuara, padahal tadinya berbentuk bulat.
Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan mati dari yang hidup. (yang memiliki sifat-sifat) demikian Dialah Allah, maka mengapa kamu akan berpaling. (Qs. Al An’am : 95)
 CARA MENEMBAK CEWEK

1. Persiapan Mental
 Mental sangat penting nih sobat karena sobat harus mempunyai cukup mental untuk nembak cewek, pokoknya dari rumah musti ada tekat yang bulet n dan juga harus bersedia menerima dengan lapang dada keputusan dia, baik diterima maupun ditolak,.,

2.  Pilih Tempat Romantis
Ini nih sobat, sobat musti pinter2 nih milih tempat waktu mau nembak cewek yang sobat pengen jadiin pacar. Sobat bisa mencari tempat romantis ya semacam rumah makan yang ada lampu klap klipnya (hehhe kayak di film2 barat itu loh) ataupun pantai, kan cocok tuh buwat ngungkapin perasaan anda di tempat-tempat romantis sambil di iringi lagu dan kata kata romantis,.,:)

3. Kasih Dia Kata Kata Buka Dasar Pas Ketemuan
Hehe ini ampuh ni sobat, pokoknya dari rumah sobat musti merangkai kata-kata yang romantis dulu, yups harus pandai merangkai kata kata romantis, karena biasanya cewek suka pada orang romantis, jadikanlah kata kata romantis tadi sebagai pengungkapan rasa sayang atau cinta sobat, tapi inget ya sobat, JANGAN LEBAY N ALAY,.,(aku pribadi sih n juga kebanyakan cewek kayaknya ga suka ama cowok lebay) tau ga kenapa??? karena kesannya cenderung GOMBAL n Playboy so katakan dari hati yang paling dalem tapi tetap musti dirangkai dulu yah :)

4. Berikan Dia Barang (ga pake juga ggp koq)
Hmmm sobat Shantycr7, perlu diberitahu dulu bahwa ini ga musti yah sebagai pelengkap aja ga pake kasi2 barang juga gpp tergantung tipe cewek yang mau sobat tembak, kalo dia suka barang (liat dari kepribadiannya) yah ga ada salahnya sobat bisa membelikan dia barang seperti bunga, boneka atau apapunlah yang penting dia sangat menyukainya, jadikanlah barang tersebut sebagai ungkapan rasa sayang sobat, contoh katanya nih "bunga mawar ini begitu indah, namun alangkah indahnya bunga mawar ini di terima oleh kamu seperti kamu menerima cintaku" hehhe (nyontek kata2 dari orang,,sorry brother aku pinjem kata2nya yah)

5. Berdoa
Ini nih sobat, tips terampuh n tips pamungkas dalam melakukan segala hal, sobat Shantycr7 kudu berdoa dulu, serahin semuanya sama Tuhan, katakan "God, jadi lah kehendak-Mu" apa pun yang terjadi ku percaya semua sudah Kau rencanakan n semua akan indah pada waktunya (keren kan guys :) )

Well, itu tuh sobat, beberapa tips yang bisa aku kasih, tapi tetap kembali lagi sih sama sikon, yah kalo basically si doi emang ga ada feeling sama sobat, yah ikhlasin aja ya sobat,,,
Oya tadi malem aku baru nonton acara favorit aku tuh MTGW, tau kan MTGW ?? aduuhhh masa ga tau sih MTGW tu Mario Teguh Golden Ways sobat.,,.jadi critanya tadi malem tu ada quote om Mario gini dibilang "Tuhan ntu uda merencanakan jodoh kita, Dia udah nentuin untuk cowok yang baik akan berjodoh dengan cewek yang baik, gitupun sebaliknya, so kalo si doi ga/belum nerima sobat berarti doi ga baik buat sobat" percaya deh.,.,:)

Selasa, 15 Juli 2014

Perbedaan Antara Sabar Dan Ikhlas


Berikut ini adalah perbedaan antara sabar dan ikhlas:
Sabar : menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencari keridhaan Allah. Referensinya adalah dalam Al Quran surat Ar-Ra’d: ayat 22
Dalam Islam, sabar artinya sanggup menahan diri. Kesusahan yang diterima seseorang tidak menyebabkan terjadinya perubahan perilaku orang tersebut, misal tidak berkata-kata yang tidak perlu, tidak marah, dan sebagainya..
Ikhlas itu lebih berat dari sabar. Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Dalam Islam, ikhlas berarti berniat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa mengharapkan balasan apapun dari yang selain Allah.
Ukuran ikhlasnya seseorang adalah bahwa orangyang  ikhlas itu dipuji atau dicaci hatinya sama saja. Dipuji-puji tidak merasa besar, dicaci macam apapun tidak merasa

Ringkasan Kewajiban Istri kepada Suami

Berikut ini adalah ringkasan ayat Al Quran dan hadits mengenai kewajiban istri kepada suaminya dalam suatu keluarga:
  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    "Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. "
    "Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar." (An Nisa : 34)

  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Siapa saja isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk Surga."
    (Riwayat Tarmizi)

  3. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki."
    (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
  4. Seorang perempuan datang ke hadapan Nabi SAW lalu berkata, "Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?"
    Maka Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya."
  5. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda, maksudnya:
    "Sungguh-sungguh meminta ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya yaitu burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama ia selalu dalam kerelaan suaminya. Dan siapa saja dikalangan isteri yang tidak berbakti kepada suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia. "
  6. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Tiga orang yang tidak diterima sholatnya (tidak diberi pahala sholatnya) oleh Allah dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit ialah: hamba yang lari dari tuannya hinggalah dia kembali, seorang isteri yang dimurkai oleh suaminya hinggalah dia memaafkannya, orang yang mabuk hingga dia sadar kembali."
  7. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya."
    Keterangan:
    Maksud Hadis ini ialah jika seorang isteri memperkecilkan usaha baik suaminya seperti dalam memberi nafkah dan memberi pakaian maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.
  8. Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
    "Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga ke atasnya."
    Keterangan:
    Hal ini biasanya terjadi pada seorang isteri yang tidak berminat kepada suaminya lagi kecuali kalau sang istri meminta cerai kepadanya karena kuatir tidak dapat menjalankan kewajiban terhadap suaminya untuk menghindarkan diri dari kekecewaan suaminya.
  9. Nabi SAW bersabda maksudnya:
    "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."
    Keterangan:
    Hal ini dapat terjadi pada suami yang miskin dan isteri yang kaya. Lalu isteri itu menafkahkan hartanya kepada suaminya, kemudian mengungkitnya.
  10. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Pertama urusan yang ditanyakan kepada isteri pada hari Kiamat nanti ialah mengenai sholatnya dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya atau tidak). "
  11. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Empat perempuan yang berada di Neraka ialah:
    • Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinva (memarahinya).
    • Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
    • Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
    • Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya."
  12. Al Hakim bercerita bahwa seorang perempuan berkata kepada Nabi SAW: "Sesungguhnya putera bapa saudaraku melamarku. Oleh karena itu berilah peringatan kepadaku apa kewajiban seorang isteri terhadap suaminya. Kalau kewajiban itu sesuatu yang mampu aku jalankan, maka aku bersedia dinikahkan." Maka Baginda bersabda: "Kalau mengalir darah dan nanah dari kedua lubang hidung suaminya lalu (isteri) menjilatnya, maka itu pun belum dianggap menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Seandainya diperbolehkan untuk manusia bersujud kepada manusia lain, tentu aku perintahkan :seorang isteri bersujud kepada suaminya."
    Berkatalah perempuan itu, "Demi Tuhan yang mengutus Tuan, aku tidak akan menikah selama dunia ini masih ada."
  13. Sayidina Ali k.w.j. berkata: "Aku masuk ke rumah Nabi SAW berserta Fatimah lalu aku dapati Baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata: "Tebusan Tuan adalah ayahku dan ibuku wahai Rasulullah, apakah yang membuat Tuan menangis?" Baginda bersabda, "Wahai Ali! Pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di Neraka dengan bermacam-macam siksaan, lalu aku menangis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat. Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya. Dan aku melihat perempuan yang digantung dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya.
    Dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua-dua kakinya sampai kedua-dua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengarahkan ular ular dan kalajengking menyengatinya. Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai dan ia ditimpakan sejuta siksaan. Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakang) sementara malaikat memukul kepalanya dengan tongkat besar dari api Neraka
    ." Lalu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.ha berdiri dan berkata, "Wahai kekasihku dan cahaya mataku! Perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa seksaan ini?" Maka Nabi SAW bersabda: "Wahai anakku! Adapun perempuan yang digantung rambutnya itu adalah karena dia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum laki-laki ajnabi.
    Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia telah menyakiti suaminya.
    Adapun perempuan yang digantung kedua-dua susunya karena dia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menduduki tempat tidur suaminya.
    Adapun perempuan yang diikat kedua-dua kakinya sampai keduadua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ke ubun ubunnya dan Allah mengarahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyengatinya karena dia tidak mandi junub setelah haid dan dia mempermainkan (meninggalkan) sholat. Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai karena dia adalah ahli adu domba dan pembohong. Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk ke mulutnya dan keluar dari duburnya karena ia ahli umpat lagi penghasut.
    Wahai anakku! Celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
    "
  14. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: "Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan menggunting kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga. "

    Penjelasan: demi cinta terhadap suaminya seorang isteri akan melakukan khidmat dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami.
  15. Umar bin Khatab mengatakan,bahwa Rasulullah saw bersabda:"AYYUMAA IMRA-ATIN RAFA'AT SHAUTAHAA 'ALAA ZAUJIHAA ILLAA LA'ANAHAA KULLU SYAI-IN THALA'AT 'ALAIHI SYAMSU ".(AL HADITS) "Mana saja isteri yang memperkeraskan suaranya kepada suaminya kecuali dilaknat oleh segala sesuatu yang tersinar oleh sinar mentari. (Al Hadits)
  16. Abu Dzar mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya kalaupun seseorang isteri beribadah seperti ibadahnya para malaikat dan manusia yang ahli ibadah.Kemudian ia membuat keprihatinan kepada suaminya karena masalah nafkah, kecuali pada hari kiamat ia datang sementara tangannya terbelenggu pada leher dan kakinya terikat, mulutnya dirobek, wajahnya pucat dan dirinya digantung oleh malaikat yang sangat keras seraya diseret menuju neraka". (al hadits)
  17. Salman Al Farisi mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda: "Mana saja isteri yang bersolek dan mengenakan wewangian, keluar rumah tanpa mendapat izin dari suaminya, maka sesungguhnya dia berjalan dalam kemurkaan Allah dan kebencianNYA hingga kembali".(Al Hadits)
  18. Rasulullah saw bersabda:"AYYUMAMRA-ATIN NAZA'AT TSIYAABAHAA FII GHAIRI BAITIHAA KHARAQALLAAHU 'AZZA WAJALLA 'ANHAA SITRAHU"(rawahu ahmad dan thabrani dan hakim dan baihaqi) "Mana saja isteri yang menukar pakaiannya dilain rumah dengan maksud sengaja di buka supaya terlihat lelaki lain,maka Allah pasti merobek penutupnya (yakni Allah tidak akan menutupi dosanya ).(dari ahmad thabrani al-hakim dan al baihaqi)
  19. Tersebut dalam riwayat Al Hakim bahwa,ada salah seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw, katanya:"Sesungguhnya putra pamanku bermaksud melamar aku,karena itu jelaskan kepadaku apa saja hak-hak suami atas istrinya. Jika hak-hak itu sanggup aku jalani niscaya aku siap menikah.Rasulullah saw menjawab:"Diantara hak-hak suami adalah seandainya dari hidungnya mengalir darah atau nanah, maka istrinya menjilatinya maka yang demikian itu belum cukup menunaikan hak-haknya.Seandainya diperbolehkan seseorang bersujud kepada orang lain,tentu aku perintahkan seorang istri supaya bersujud kepada suaminya". Wanita itu berkata: "Demi dzat yang mengutusmu dengan hak, selama di dunia aku tak akan menikah".
  20. Tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa, ada seorang perempuan datang menghadap Nabi saw seraya berkata:"Hai rasulullah,aku ini seorang wanita yang masih muda. Baru-baru ini aku sedang dilamar seseorang tapi aku belum suka menikah, sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu? "Rasulullah saw menjawab: "Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah, lalu istrinya menjilati seluruhnya, maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami". Perempuan muda itu berkata: "Kalau begitu pantaskah aku menikah?". Rasulullah saw berkata:"Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik".
  21. Tersebut dalam riwayat At Thabrani:"Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta'ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan. Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta,maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya".(yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). (Al hadits)
  22. Ibnu Abbas Ra mengatakan,ada seorang perempuan dari kats'am menghadap Rasulullah saw, katanya:"Aku ini seorang perempuan yang masih sendirian, aku bermaksud menikah. Sesungguhnya apa sajakah hak-hak suami itu? Beliau menjawab: "Apabila suami menghendaki istrinya seraya terus menggoda, sementara waktu itu istrinya masih diatas punggung unta, maka ia tidak boleh menolaknya. Diantara hak suami adalah hendaknya istri jangan memberikan sesuatu apapun dari rumahnya kecuali mendapat izin dari suaminya. Kalau ia tetap melakukan perbuatan itu, maka ia berdosa dan pahalanya diberikan kepada suaminya. Diantara hak suami yang lain adalah hendaknya istri jangan berpuasa sunnah kecuali mendapat izin dari suaminya, kalau ia tetap berpuasa maka hanya mendapat rasa lapar dan dahaga, puasanya tidak diterima. Kalau istrinya memaksa keluar rumah tanpa memperoleh izin dari suaminya maka ia dilaknati para malaikat, hingga kembali dan bertaubat".(Al hadits)
  23. Rasulullah bersabda :"AWWALU MAA TUS-ALUL MAR-ATU YAUMAL QIYAAMATI 'ANSHOLAATIHAA WA'AN BA'LIHAA">(al hadits) "Pertama kali yang di pertanyakan kepada seorang isteri pada hari kiamat adalah tentang sholatnya dan suaminya".
  24. Rasulullah bersabda:"Permulaan yang di perhitungkan dari seseorang lelaki (suami) adalah mengenai shalatnya,kemudian tentang istrinya dan perkara-perkara yang di kuasainya. Jika pergaulannya bersama mereka baik dan lelaki itu berlaku baik kepada semuanya, maka Allah berbuat bagus kepadanya. Dan permulaan perkara yang di perhitungkan (yakni dihisab) bagi perempuan adalah tentang shalatnya kemudian tentang hak-hak suaminya .(al hadits)
  25. Rasulullah saw bersabda kepada istrinya: "Dimana engkau mempunyai kewajiban kepada suamimu?. Istri beliau menjawab :Aku tidak akan berbuat lalai dalam melayaninya, kecuali terhadap hal-hal yang kurasa tidak mampu kulakukan. Rasulullah saw pun melanjutkan : "Bagaimanapun kamu bergaul bersamanya maka sesungguhnya suamimu adalah sorga dan nerakamu".(al hadits)
  26. Tersebut dalam riwayat, bahwa Nabi Saw bersabda: "Ada empat macam wanita yang masuk sorga dan empat macam wanita yang lain masuk neraka. Diantaranya empat macam wanita yang masuk sorga adalah, istri yang memelihara kesucian (kehormatan dirinya ), menaati perintah Allah dan menaati suaminya, banyak anaknya, penyabar, mudah menerima pemberian sedikit bersama suaminya, mempunyai rasa malu. Kalau suaminya tidak ada ditempat(sedang pergi) ia memelihara dirinya dan harta suaminya. Kalau suaminya sedang di rumah ia mengekang lisannya. Yang lain adalah isteri yang ditinggal mati suaminya, ia mempunyai anak banyak tetapi ia menahan diri untuk kepentingan anak-anaknya, memelihara mereka berlaku baik pada mereka dan tidak menikah lagi karena khawatir jika menyia-nyiakan anak-anaknya itu. Adapun empat wanita yang lain yang di tetapkan masuk neraka adalah, istri yang berlisan buruk pada suaminya, kalau suaminya sedang pergi ia tidak menjaga kehormatan dirinya, kalau suaminya berada dirumah lisannya terus mencerca dengan kata-kata yang buruk,dan isteri yang membebani suaminya dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya,dan isteri yang tidak menutup dirinya dari lelaki lain bahkan ia keluar rumah dengan dandanan yang berlebihan, dan isteri yang tidak mempunyai aktivitas lain kecuali makan, minum, tidur dan tidak mempunyai kecintaan untuk melaksanakan sholat, tidak menaati Allah dan rasulNYA dan tidak berusaha menaati suaminya. Isteri yang bersikap seperti itu adalah istri yang terlaknat, termasuk ahli neraka, kecuali jika segera bertaubat.(al hadits)
  27. Kata Sa'ad bin Waqash, aku mendengar rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya seorang istri jika tidak membesarkan hati suaminya sewaktu mengalami kesempitannya,maka Allah akan melaknatnya dan begitu pula para malaikat semuanya ikut melaknat dirinya .(al hadits)
  28. Salman Al farissi mengatakan bahwa aku mendengar Rasulullah saw bersabda:"MAA NADZARATIMRA-ATUN ILAA GHAIRI ZAUJIHAA BISYAHWATIN ILLAA SUMMIRAT 'AINAHAA YAUMANLQIYAAMATI.(al hadits) "Tidaklah seoarang istri yang memperhatikan lelaki yang bukan suaminya di sertai syahwat, kecuali kedua matanya kelak di hari kiamat akan di butakan".
  29. Abu Ayyub Al Anshari mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah saw bersabda: "Dilangit dunia, Allah menciptakan (menempatkan) tujuh puluh ribu malaikat, dimana mereka melaknati setiap isteri yang menghianati suaminya dalam penggunaan hartanya. Di hari kiamat kelak mereka dikumpulkan bersama para tukang sihir, para dukun, kendati sepanjang hidupnya dihabiskan untuk melayani suaminya".(al hadits)
  30. Kata Mu'awiyah, sesungguhnya aku mendengar bahwa rasulullah saw besabda:"AYYUMAA IMRA-ATIN AKHADZAT MIN MAALIN ZAUJIHAA BIGHAIRI IDZNIHI ILLA KAANA 'ALAIHAA WIZRUU SAB'IINA ALFA SAARIQ".
    "Mana saja seorang isteri yang mengambil harta suaminya, tanpa seizinnya kecuali dirinya mendapat tujuh puluh dosanya pencuri". (al hadits)
  31. Rasulullah saw bersabda:"Allah mengharamkan setiap orang masuk sorga sebelum aku, hanya saja melihat dari sebelah kananku seorang perempuan yang mendahului aku menuju pintu sorga. Aku bertanya "Bagaimana perempuan ini mendahuluiku? Dijawab:"Hai Muhammad, dia adalah perempuan yang bagus. Ia mempunyai anak-anak yatim tetapi ia bersabar merawat mereka hingga mencapai usia beligh. Lalu dia bersyukur kepada Allah terhdap semua itu".(al hadits)
Nasehat dari para ulama tentang kewajiban istri kepada suaminya:
  1. Sayidina Ali k.w.j. berkata: "Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya".
  2. Aisyah r.a. berkata:
    "Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya."
  3. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya terhadap Allah hingga ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya, dan seandainya suami memintanya (untuk digauli) sedang ia (isteri) di atas belakang unta maka tidak boleh dia menolaknya.
  4. Istri senantiasa menyediakan air di sisi suami. Selama ia berbuat yang demikian selama itulah ia didoakan keampunan oleh para malaikat.
  5. Memasak makanan menurut kesukaan atau selera suami.
  6. Menambal baju atau pakaian suami yang sudah buruk.
  7. Siapkan barang-barang keperluan di dalam sakunya seperti sisir, celak, sikat gigi. cermin dan minyak wangi (ikut Sunnah).
  8. Istri mengikuti kemauan suami pada waktu bersenda gurau, memijat, mengipas dan sebagainya.
  9. Seorang isteri hendaklah menyadari bahwa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak karena taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredhaannya adalah wajib Seorang suami pula tidak wajib mentaati isteri
  10. Istri hendaknya menjadi pendorong serta penasehat dalam hal-hal kebaikan.
  11. Memahami hal-hal yang digemari dan yang dibenci oleh suami.
  12. Setiap perbuatannya hendaklah menyenangkan hati suami.
  13. Senantiasa menambahkan ilmu agamanya serta amalan.amalannya dengan berbagai macam cara seperti membaca, mendengar kaset-kaset ceramah agama serta mengikuti majlis- majlis agama.
  14. Seharusnya seorang isteri mengetahui kedudukan dirinya seolah olah seorang 'hamba' perempuan yang dimiliki oleh suaminya atau sebagai 'tawanan' yang lemah. Oleh karena itu dia tidak boleh membelanjakan sedikit pun dari hartanya (sendiri) kecuali dengan seijin suaminya karena ia diumpamakan sebagai orang yang dalam kawalan (perhatian).
  15. Wajib bagi seorang isteri:
    • Merendahkan pandangannya terhadap suaminya.
    • Tidak berkhianat terhadap suaminya ketika suaminya tidak ada termasuk juga hartanya.
    • Menunaikan hajat suami (jika diajak oleh suaminya) biarpun di waktu sibuk atau susah (ditamsilkan berada di punggung unta oleh Rasulullah).
    • Meminta ijin suami untuk keluar dari rumahnya. Kalau keluar rumah tanpa ijin suaminya maka dia dilaknati oleh malaikat sampai ia bertaubat dan kembali.
  16. Siapa saja di kalangan isteri yang bermuka masam di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah sampai ia dapat membuat suasana yang menggembirakan suaminya dan memohon kerelaannya.