Total Tayangan Halaman

Senin, 29 September 2014

Cara Mengatasi Rambut Rontok

Jika rambut Anda sudah mengalami kerontokan, berikut ada beberapa tips cara mengatasi rambut rontok :
  1. Lidah buaya
  2. Siapa yang tidak kenal tanaman yang satu ini? Lidah buaya memang sudah dipercaya berkhasiat untuk kesehatan rambut. Lidah buaya mengandung banyak vitamin dan mineral yang bermanfaat membantu menyuburkan rambut dan menjaga kesehatan kulit kepala. Cara menggunakannya hanya perlu menyediakan beberapa helai daun lidah buaya, kemudian ambil lendir lidah buaya tesebut. Lalu jadikan sebagai pengganti sampo disetiap kali anda keramas / mandi. Usapkan pada rambut yang masih setengah kering sambil dipijit-pijit. Diamkan selama kurang lebih 15 menit kemudian bilas sampai bersih.

  3. Madu
  4. Madu sudah lama dikenal dapat menjaga kesehatan tubuh, tak terkecuali menjaga kesehatan rambut. Madu dapat bermanfaat untuk menyuburkan rambut dan menjadikan rambut lebih kuat. Cara menggunakannya yaitu dengan cara mengoleskan madu secukupnya pada seluruh permukaan kulit kepala dan rambut dengan sambil melakukan pemijatan selama kurang lebih 10 menit. Lakukan cara ini setiap hari agar mendapatkan hasil yang maksimal.

  5. Teh hijau
  6. Teh hijau mengandung antioksidan yang bermanfaat untuk mengurangi rambut rontok, meningkatkan pertumbuhan rambut serta menjaga kesehatan rambut. Cara menggunakannya cukup mudah dengan menyeduh teh dengan menggunakan air panas. Setelah menyeduh dengan air panas, kemudian endapkan selama semalaman. Air teh yang dibuat akan menjadi basi, air teh yang basi itulah yang akan digunakan. Air teh basi tersebut digosok-gosokkan ke seluruh permukaan kulit kepala. Lakukan sebelum keramas. Lakukan dengan rutin.

  7. Daun seledri
  8. Daun seledri juga bermanfaat untuk mengatasi rambut rontok. Hal ini karena daun seledri mengandung vitamin seperti, zat besi, vitamin A, vitamin B, natrium dan kalsium bermanfaat untuk menjaga pertumbuhan rambut agar lebih kuat, sehat dan tampak berkilau. Cara menggunakannya dengan ambil beberapa batang seledri secukupnya. Bersihkan dan blender dengan telur yang sebelumnya sudah dikocok. Blender sampai tercampur dengan rata. Kemudian, oleskan secara perlahan pada rambut sambil dipiit dengan lembut. Diamkan selama sekitar 20-30 menit kemudian bilas sampai bersih.

  9. Alpukat
  10. Alpukat ini juga cocok untuk mengatasi rambut kering, karena alpukat mengandung banyak nutrisi dan asam lemak. Cara menggunakannya terlebih dahulu hancurkan alpukat di dalam mangkuk dan kemudia aduk sampai menjadi pasta kental. Setelah menjadi pasta, usapkan pada rambut menyeluruh mulai dari akar hingga ujung rambut. Biarkan selama sekitar 20 menit. Bersihkan rambut dengan menggunakan sampo, kemudian bilas hingga bersih.

  11. Yoghurt
  12. Yoghurt juga bermanfaat untuk mengatas rambut rontok. Caranya, yaitu gunan yoghurt sebagai masker rambut Anda. Diamkan beberapa menit. Lakukan cara ini setiap minggu sekali.
Itulah penyebab rambut rontok dan cara mengatasi rambut rontok. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan rambut Anda agar terhindar dari masalah-masalah rambut lainnya yang tidak diinginkan. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

YaSin – Keutamaan dan Khasiatnya

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ

YASIN – KEUTAMAAN DAN KHASIATNYA

.
YaseenSurah Yasin adalah surah yang menempati urutan ke 36 dalam mushaf Al-Qur’an. Nama ini diambil dari ayat permulaan surah ini yang terdiri dari huruf singkatan (muqaththa’ah) ya dan sin.
Ya adalah huruf untuk memanggil (nidaa) artinya wahai dan sin adalah singkatan dari kata insan artinya manusia, maksudnya adalah manusia sempurna.
Manusia sempurna yang dituju oleh huruf muqaththa’ah ini adalah Sayyidina Nabi Muhammad saw. Karena beliaulah seorang nabi yang telah menerirma wahyu Al-Qur’an, kitab suci Allah yang sempurna, sehingga seluruh kehidupan beliau berada di atas jalan yang lurus benar (QS.36: 5)
Dan kedudukan beliau berada di atas semua nabi dan rasul Allah swt., sampai-sampai nama beliau saw. diletakkan berdampingan dengan nama Allah swt yang senantiasa diucapkan oleh setiap orang yang memasuki Agama Islam dalam kalimah syahadat.
Berkat keteladanan beliau saw. (QS.33:22) dalam mengikuti hidayah Al-Qur’an, bangsa Arab yang jahil, buta huruf dan sesat, dalam setiap aspek kehidupan berubah menjadi bangsa yang pandai, berakhlak mulia, dan terpimpin dalam mencurahkan hidupnya untuk berbakti kepada Allah swt. dan kemanusiaan dalam tempo kurang dari 23 tahun.
Bahkan mereka mendapat pujian Allah swt. sebagai umat terbaik (QS.3:3) dan paling unggul diantara umat yang ada di dunia saat ini.

Surah ini juga memberikan kabar suka tentang datangnya pengikut setia Sayyidina Nabi Muhammad saw di zaman akhir Umat Islam (Qs.36:21) di saat mereka meninggalkan petunjuk Al-Qur’an dan mereka hidup dalam kegelapan ruhani yang mendorong mereka mengikuti kemauan hawa nafsunya dan mengikuti kemauan orang-orang yang mereka anggap sebagai ulama.
Pengikut setia beliau saw. di zaman akhir itu dalam beberapa hadits beliau beri gelar lmam Mahdi. Berkat kepemimpinannya secara berangsur-angsur Umat Islam akan memperoleh pencerahan Al-Qur’an kembali sehingga pada suatu saat mereka akan menjadi sarana Al-Qur’an dan Islam untuk menerangi penjuru jagad raya yang dirundung kegelapan dan kemenangan Islam atas semua agama secara sempurna akan terwujud (QS. 61:10).
Oleh karena itu surah ini dalam hadits disebut Jantung Al-Qur’an, sebab dengan surah ini Al-Qur’an menjadi hidup dengan memancarkan cahaya ruhani yang terang benderang untuk membimbing umat manusia berjalan di jalan yang benar. Agar mereka mati dalam keadaan berserah diri kepada kehendak Tuhannya (QS.2:133; 3:103) dan kembali kepada-Nya dengan tenang dan senang (QS.89:28-29).
Firman Allah :
تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ
[sebagai wahyu] yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang
(QS.36 Ya-Seen :5)
وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَـٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥ‌ۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَـٰنً۬ا وَتَسۡلِيمً۬ا
Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan
 (QS.33 Al-Ahzab :22)
نَزَّلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقً۬ا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَأَنزَلَ ٱلتَّوۡرَٮٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ
Dia menurunkan Al Kitab [Al Qur’an] kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil
(QS.3 Al-E-Imran :3)
ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرً۬ا وَهُم مُّهۡتَدُونَ
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk
(QS.36 Ya-Seen :21)
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَـٰرَةٍ۬ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٍ۬
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih
(QS.61 As-Saff :10)
أَمۡ كُنتُمۡ شُہَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِى قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ ءَابَآٮِٕكَ إِبۡرَٲهِـۧمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ وَإِسۡحَـٰقَ إِلَـٰهً۬ا وَٲحِدً۬ا وَنَحۡنُ لَهُ ۥ مُسۡلِمُونَ
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan [tanda-tanda] maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, [yaitu] Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya
(QS.2 Al-Baqara :133)
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ۬ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡہَا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَہۡتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk
(QS.3 Al-E-Imran :103)
ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً۬ مَّرۡضِيَّةً۬
فَٱدۡخُلِى فِى عِبَـٰدِى
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya” “Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku
(QS.89 Al-Fajr :28-29)

Senin, 22 September 2014

SIKSA KUBUR KARENA KENCING

Assalamu alaikum Wr Wb
Begitu seorang manusia meninggal dunia, maka semuanya akan ditinggalkannya.
Istri yang cantik, putra-putinya yang lucu-lucu, rumahnya yang besar dan mewah, mobil nya yang berjumlah delapan buah, semua nya ditinggalkan dan memang tidak bersedia mengikutinya masuk ke alam kubur.
Kini tinggallah dia sendiri berteman dengan sepi, hanya berselimut kain kafan yang putih.
Sabda Rosululloh SAW:
“Idha matab nu adama inkota amalihi illa min salasatin sodaqotin jariyatin,au ilmin yuntafau bihi au walidin solihin yad u lahu”
Artinya:
“Ketika manusia mati,maka putuslah segala amalnya, kecuali 3 perkara(yg bisa terus sambung dg si mati) yaitu:
Sodaqoh jariah,ilmu yang bermanfaat(ilmu agama yang diajarkan pada orang lain) dan anak yang sholeh yang selalu mendoakan pada orang tuanya”.
Begitu tujuh langkah para keluarga,teman,handau taulan dan tetangga yang ikut mengantar dia ke kuburan pergi meninggalkan nya sendiri, maka datanglah malaikat yang langsung menginterogasinya dengan beberapa pertanyaan.
Alam kubur adalah ‘akhirat kecil’ atau ‘akhirat tahap pertama’ yang akan dihadapi setiap orang setelah mati.
Di alam kubur lah akan terlihat apakah dia kelak akan ke Surga atau ke Neraka.
Nabi bersabda:
“Jika di kubur seseorang disiksa,maka di akhirat kelak dia akan mendapatkan siksa yang lebih berat di neraka”
Saat manusia di Alam kubur inilah ,dia akan tergantung AMAL nya selama di dunia dan HATI nya.
Kalau amal nya baik,sesuai dengan Alquran dan Hadis ,lalu hati nya diniati karena Alloh,maka dikatakan oleh Malaikat di alam kuburnya:
“Nam solihan” “tidurlah yang nyenyak”
Lalu dia disinari dengan cahaya dari Surga sehingga dia terlelap tidur dengan nikmat sampai hari kiamat datang.
bahkan saking nikmatnya tidur, seakan-akan dia tidur hanya sehari ,bahkan seolah-olah hanya
Setengah hari saja !
Sebaliknya kalau Amal nya tidak sesuai dengan Alquran dan Hadis, maka Malaikat langsung memukul dan menyiksanya sampai badan dan tulangnya hancur.
Dia disiksa terus sampai datangnya hari kiamat.
Salah satu yang menyebabkan orang disiksa kubur ini adalah karena orang tersebut tidak bisa menjaga kesucian alias tidak bersih dari Najis yang disebabkan karena percikan air kencing.
1.Rosululloh SAW bersabda di Hadis Ibnu Majah:
“Kebaanyakan siksa kubur adalah dari air kencing”
2.Rosululloh SAW bersabda di Hadis Muslim:
“Sesungguhnya kedua orang ini di siksa kubur bukan karena perkara besar.yang pertama karena tidak menjaga dari percikan kencing….”
3.Rosululloh SAW bersabda di Hadis Daraqutni:
“Bersihkanlah dirimu dari kencing,karena kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh kencing”
Agar kita selamat,maka kita harus mengerti tentang “ilmu bersuci dari najis”
APAKAH NAJIS ITU?
Pengertian Najis secara gampang adalah segala sesuatu yang dianggap kotor oleh agama,sehingga apabila kita terkena najis,maka tidak boleh untuk sholat.
Apabila makanan terkena najis, maka tidak halal untuk dimakan.
Apabila air terkena najis, maka tidak boleh untuk bersuci atau berwudhu.
Disamping air kencing, yang juga masuk dalam kategori najis adalah:
Tahi/kotoran manusia,kotoran binatang yang haram dimakan,darah haid,madzi,bangkai,babi,anjing dll
Namun disini kita membatasi pembahasan kita pada najis akibat air kencing.
Adallah suatu ironi yang luarbiasa, karena secara factual,nyata,kasat mata,kita bisa melihat hampir kebanyakan orang islam di negri ini TIDAK MENGERTI NAJIS.
Ini bisa kita lihat dari praktek kehidupan sehari-hari mereka.
Saat mereka kencing,mereka tidak melepas celana panjang mereka, mereka bahkan tidak faham sama sekali saat air kencing yang mereka keluarkan,memantul kepakaian mereka,memercik ketangan dan kaki mereka, tanpa mereka bersihkan secara memadai menurut agama.
Hal ini diperparah dengan konstruksi kamar madi mereka yang jauh dari islami!
kebanyakan kamar mandi mereka hanya punya bak mandi ukuran kecil yang volume airnya tidak ada DUA KOLA.
Satu kola:sekitar 105 liter.jadi kalau dua kola :210 liter.
Kalau bak mandi itu tidak ada dua kola, maka begitu ada najis yang masuk ke bak mandi,misalkan percikan air kencing,atau tangan kita terkena percikan kencing,kemudian kita celup kebak mandi yang isinya kurang dari dua kola,maka:
SEMUA AIR DI DALAM BAK MANDI TADI MENJADI AIR NAJIS !!!
Lalu kalau kemudian air najis itu kita pakai untuk bersuci,maka sama saja kita meratakan najis keseluruh badan kita.
Kalau air tadi kita buat mandi, maka berarti kita mandi dengan air najis.
Kalau air tadi kita pakai untuk menyucikan kaki,maka kaki kita jadi najis.
Kalau kita menggunakan air tadi untuk mencuci pakaian, maka pakaian kita menjadi najis……dst……dst…..
Lebih parahnya lagi, malah ada kamar mandi yang hanya meletakkan timba plastik kecil dibawah kran air.
Biasanya untuk toilet yang untuk buang air besar atau wc.
Anehnya lagi,bak kecil tadi diletakkan dibawah,di lantai.
Pertanyaannya:
Kalau kita kencing misalnya,apa tidak menciprati kedalam bak tadi?
Pastilah cipratan nya masuk kebak yang pendek dan letaknya dibawah itu.
Lalu air yang najis tadi kita gunakan untuk membersihkan kotoran kita?
Apakah lalu dihukumi bahwa karena kita tidak melihat percikan najis itu,maka dianggap tidak najis???
Pasti salah kalau kita punya pendapat begitu.
Hukum yang benar adalah:
Kalau menurut akal logika bahwa pasti ada percikan najis yang seratus persen masuk /memantul masuk ke timbah yang rendah tadi,maka hukum nya jelas najis,karena isi timba tadi tidak ada dua kola.
Lalu bagaimana solusinya?
Gampang saja!
Kalau membuat kamar mandi atau toilet, lengkapi dengan bak mandi besar yang volumenya lebih dari dua kola (210 liter).
Insaalloh semua jadi beres.
Karena kalau ada najis-najis sedikit,misalnya percikan air kencing yang mengenahi tangan kita misalnya, maka cukup celupkan saja tangan kita ke dalam bak mandi besar tadi,maka najis kita sudah lenyap dan air di bak mandi tadi tetap suci hukumnya.
Yang kedua, jika ada percikan najis masuk ke bak besar tadi, maka air bak tadi tetap suci seratus persen.
Gampang sekali bukan???
Jadi ingat,karena kita ini muslim, maka dalam membuat kamar mandi atau WC supaya mengikuti cara islami .
Jangan meniru toilet-toilet yang ada di mall-mall atau hotel-hotel.
Mereka jelas-jelas mengadopsi gaya barat,gaya orang-orang bule,liberalisme yang cenderung berkiblat pada agama nasrani dan yahudi.
Bayangkan saja, sampai-sampai ada toilet yang tidak pakai air.yang ada hanya tissu !. Alangkah jauhnya dari islam.
Maka mari kita kembali ke Agama Islam yang murni, yaitu Alquran dan Hadis.
Wahai kaum muslim yang dimulyakan Alloh. Mulai sekarang,mari kita rubah kamar mandi dan WC kita menjadi islami.
Kalau bak mandi kita kecil, maka mari kita perbesar sehingga bisa memuat air minimal dua kola.
Agar kesucian kita terjaga, sehingga ibadah kita jadi sempurna .
Dan yang lebih penting lagi, kita bisa terhindar dari bahaya siksa kubur kelak.
Dan yang lebih ironis lagi, hampir 95 persen masjid-masjid diseluruh indonesia masih menggunakan bak mandi kecil, bahkan hanya menyediakan timba plastik kecil di kamar mandi atau WC masjid.
Hal ini setidaknya kami ketahui lewat safari perjalanan /musafir kami antara lampung-bekasi-cirebon-semarang-tuban-surabaya-banyuwangi-denpasar Bali.
kami kebetulan sering melakukan perjalanan jarak jauh tersebut dengan mobil bersama keluarga.
Setiap waktu-waktu tertentu, kami selalu mampir di masjid-masjid besar maupun kecil yang ada disepanjang pesisir utara laut jawa ,di lintas timur sumatra maupun pulau bali.
Hampir semua masjid, baik yang masjidnya besar dan indah maupun masjid yang kecil dan sederhana hanya punya kamar mandi atau WC yang kecil dengan bak mandi yang kecil pula.
Sudah begitu, beberapa diantaranya malah airnya mampet atau ber kamar mandi jorok alias kotor tidak terawat.padahal masjidnya cukup megah.
Bahkan lebih parah lagi, kami beberapa kali menemui masjid yang cukup besar dan ramai,tapi tanpa dilengkapi kamar mandi atau wc yang ada pintunya!
Hanya tersedia tempat kencing di sekat-sekat tanpa pintu dan sebuah kran air tanpa tambahan selang plastik.
Kita bayangkan, kita kencing dg mencopot celana (tapi tempatnya terbuka,tidak ada pintu) lalu kita putar kran air,maka muncratlah air dg kerasnya sehingga memantulkan air kencing kita kemana-mana,sehingga semuanya jadi najis ! Betapa ngerinya ! Inilah bahaya siksa kubur !
Mestinya, wahai bapak-bapak pengurus masjid yang terhormat !
Panjenengan sediakan kamar mandi yang ada pintunya, sehingga aurat kita tidak terlihat orang lain.
Yang kedua, minimal panjenengan sediakan selang plastik di mulut kran itu,sehingga air yang keluar bisa pelan-pelan dan diarahkan dengan baik,sehingga tidak menciprati kemana-mana.
Tapi lebih bagus lagi jika sediakan bak mandi besar disetiap kamar mandi dan wc yang kita bangun.
Semakin banyak Masjid dikunjungi untuk sholat, maka semakin barokah mesjid tersebut.semakin banyak pahala amal jariah yang mengalir pada kaum muslim yang membangun ,mengurusi dan merawat masjid tersebut .
Agar masjid itu menjadi idola kaum muslim yang mampir sholat, maka sangat tergantung dengan fasilitas kamar mandi dan WC nya.
Sekedar tambahan, kami bahkan sering menjumpai masjid yang ‘kurang bersahabat dengan kesucian’.
Masjid tersebut punya tempat wudhu dan kamar mandi yang agak ke dalam,sehingga setiap orang harus melewati lantai masjid yang suci,sandal harus dilepas. Parahnya, disitu tidak ada fasilitas kran air atau bak air untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid.
Kalau misalnya kaki kita kebetulan dalam keadaan najis, bagaimana cara kita menuju ke tempat kamar mandi atau kran air yang harus melewati lantai masjid yang suci??? Apakah dengan terbang???
Maka ,mari kita renungkan bersama-sama. Mari kita belajar “ilmu kesucian”, dan bersama-sama kita terapkan di rumah masing-masing, dan di masjid lingkungan kita terdekat.
Mari kita ingatkan pengurus masjid tentang bahaya siksa kubur ini .
Jangan takut dan sungkan.
“Kulil khakko walau kana murron”
Katakan yang benar tersebut, walaupun pahit akibatnya!
Namun Alhamdulillah, ada beberapa masjid yang kami kunjungi itu benar-benar sempurna dalam menerapkan ilmu kesucian. Ada masjid besar,ada masjid sedang, ada mesjid kecil yang menyediakan beberapa kamar mandi besar(jumlah kamar mandinya lebih dari dua),indah,harum dan terawat,serta dengan bak air yang besar(lebih dari 3 kola) dan fasilitas air yang berlimpah !
Kami benar-benar kagum dan angkat jempol pada pengurus masjid yang hebat itu.
Setelah kami hubung-hubungkan antara satu dengan lainnya, ternyata beberapa masjid yang hebat dalam menjaga kesucian dan berfasilitas kamar mandi sangat baik tersebut milik salah satu ormas dan majlis taklim yang memang sangat terkenal dalam kajian Alquran dan Hadis nya.
Tapi, kami tidak ingin menyebutkan nama majlis taklim tersebut, agar tidak timbul fitnah dan konflik kepentingan yg memihak .kami ingin netral.
Kami Hanya ingin kita kembali ke Ilmu Alquran dan Hadis.
Mari kita terapkan, dengan mewujudkan kehidupan yang islami sesuai dengan ilmu.
Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak bisa???
Apakah mau, ibadah sholat kita tidak diterima,hanya gara-gara kekonyolan kita sendiri yang cuek dengan najis?
BATAL MASUK NERAKA KARENA SAHABAT SALEH

Assalamu'alaikum wr. wb.

Sahabat, ketahuilah bahwa teman yang baik itu akan membawa seseorang pada kebaikan. Dan sebaliknya, teman yang buruk hanya akan menjerumuskan kepada kemaksiatan. Itulah hikmah yang terkandung dalam kisah di bawah ini. Berkatberteman dengan orang saleh, seseorang yang akan masuk neraka akhirnya diampuni dan dimasukkan ke dalam surga.

Berikut Kisahnya
Di dalam Kitab Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir Al Khaubawiyiyi diceritakan bahwa ada dua orang yang bersahabat karib di dunia. Namun, ketika meninggal dunia, keduanya mendapatkan perlakuan yang tidak sama.

Satu orang dari keduanya adalah orang saleh yang meninggal dunia dengan tenang. Seumur hidupnya diisi dengan amal ibadah dan perbuatan baik. Sementara itu, yang satunya banyak menghabiskan waktunya di dunia dengan perbuatan maksiat dan melanggar perintah Allah SWT.

Dijelaskan dalam kitab tersebut, ketika orang saleh itu meninggal dunia, ia diterima oleh Malaikat Ridwan dengan rasa hormat.
Sambil membungkuk, Malaikat Ridwan berkata,
"Silahkan Tuan masuk surga yang merupakan hak Tuan. Saya antarkan sampai ke pintu gerbangnya."
Menolong Sahabat
Dengan rasa penuh suka cita, orang saleh itu melangkah menuju surga. Namun, tiba-tiba ia tersentak kaget, lalu menghentikan langkahnya. Ia mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya,
"Sahabatku, tolongah aku. Atas nama persahabatan kita yang akrab, selamatkanlah aku dari neraka, "begitu suara itu yang terus menerus memanggil orang saleh tersebut.

Orang saleh tersebut memperhatikan sekeliling dan mencari-cari asal suara itu. Dilihatnya ada seorang laki-laki sedang diseret-seret menuju neraka oleh Malaikat Malik yang wajahnya begitu menakutkan.
"Ya Allah, laki-laki itu adalah sahabatku semasa hidup di dunia dulu, "guman orang saleh itu.

Karena merasa prihatin dengan apa yang dialamioleh sahabatnya itu, orang saleh tersebut akhirnya tidak mau masuk ke surga. Ia malah minta untuk diantarkan ke neraka.
"Antarkanlah saya ke neraka, "pinta orang saleh itu kepada Malaikat Ridwan.

Mendengar pernyataan itu, Malaikat Ridwan terperanjat kaget. Dan dengan keras dia menolak permintaan orang saleh itu.
"Bagaimana saya akan membawa Tuan ke neraka, padahal saya diperintahkan mengantar Tuan ke surga? Silahkan Tuan, tidak usah ragu-ragu. Surga yang indah itu milik Tuan dan saya akan melayani Tuan secara baik-baik, "jelas Malaikat Ridwan meyakinkan orang saleh tersebut.

"Aku tidak membutuhkan surga maupun pelayananmu. Bawalah saya ke neraka, "ujar orang saleh itu dengan suara agak keras.

Karena merka saling bersitegang dengan pendiriannya masing-masing, maka terdengarlah sebuah suara gaib Yang Maha Agung.
"Wahai malaikatku, sebenarnya Aku telah mengetahui apa yang tersembunyi di balik dada hambaKu yang saleh ini.amun, agar lebih jelas bagimu, tanyakan sendiri kepadanya kenapa ia memilih neraka daripada surga, "kata suara itu.

Malaikat Ridwan segera memenuhi perintah itu dan bertanya,
"Mengapa Tuan lebih menyukai neraka daipada surga?"
"Engkau lihat orang yang sedang diseret-seret menuju neraka itu? Ia adalah sahabatku selama hidup di dunia. Ia menjerit-jerit minta tolong agar aku membebaskannya dari ancaman neraka. Aku sadar sepenuhnya, tidak mungkin aku yang lemah ini menyelamatkannya dari neraka dan membawanya ke surga. Karena itu, lebih baik aku yang ke neraka agar dapat bersama-sama dengannya, "ujar orang saleh itu.

Ikut Menuju Surga
Mendengar jawaban ini, Malaikat Ridwan semakin kaget dan terharu.

Kemudian terdengarlah suara gaib kembali.
"Wahai hambaKu yang saleh, dengan segala kelemahanmu, engkau rela masuk neraka untuk bersama-sama dengan sahabatmu yang telah menemanimu sebentar saja di dunia. Padahal, sepanjang umurmu, engkau begitu taat dan berbakti kepadaKu, memujaKu sebagai Tuhanmu. Bagaimana Aku rela membiarkanmu masuk neraka? Karena itulah Aku hadiahkan sahabatmu itu untukmu, dan ajaklah dia masuk surga bersamamu. Inilah ganjaran yang sepadan bagimu, "terang suara itu.

Maka, dengan ke-Maha Pengampunan Allah SWT kepada makhlukNya itu, kedua sahabat karib tersebut akhirnya diantarkan ke surga dan masuk ke dalamnya. Ahli maksiat itu mendapatkan hikmah berupa kenikmatan lantaran dirinya berkumpul dan bersahabat dengan orang saleh semasa hidupnya di dunia.
Ini Loh Ladies, Bahayanya Jika Wanita Terlalu Cinta Pacarnya

Yang namanya jatuh cinta, pasti ada hubungan dicintai dan mencintai. Wajar jika wanita begitu mencintai pasangannya, namun hati-hati, karena segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, termasuk cinta.

Banyak bahaya yang bisa dialami wanita jika dia terlalu mencintai pacarnya. Inilah beberapa di antaranya:

Melupakan Kehidupan Sosial

Poin pertama ini paling sering terjadi pada wanita yang baru jadian. Seringkali semua waktunya hanya untuk pacar, lupa dengan teman-temannya, lupa dengan hobinya, lupa dengan ulang tahun sahabatnya dan sebagainya. Kalau sudah begini, biasanya teman memilih untuk tidak peduli juga saat Kamu putus nanti. Parahnya, jika sampai Kamu putus, Kamu akan kehilangan banyak orang yang tidak Kamu perhatikan selama pacaran.

Tidak Punya Waktu Untuk Diri Sendiri

Saking banyaknya perhatian untuk pacar, perhatian untuk diri sendiri justru berkurang. Kamu lebih peduli apakah dia sudah makan atau belum, namun Kamu bahkan seharian belum makan. Kamu lebih peduli dengan kehidupannya ketimbang hidup Kamu sendiri. Jika sudah begini, tubuh Kamu yang akan lelah. Cintai diri Kamu sebelum mencintai orang lain.

Semua Atas Persetujuan Pacar

Tiba-tiba Kamu yang mandiri jadi tergantung dengan pacar. Kamu tidak mau pergi ke pesta ulang tahun teman jika pacar tidak ikut, semua hal harus seizin pacar, bahkan Kamu mulai menjauh dari keluarga karena pacar Kamu tidak suka dengan keluarga Kamu. Jika sudah begini, Kamu tidak akan punya pemikiran sendiri. Cinta bukanlah cinta jika semua hal atas keinginan pacar semata.

Menyakiti Perasaan diri Sendiri

Saat pacar berkata kasar, Kamu memilih diam. Saat dia mulai main pukul, Kamu tidak melawan, semua atas dasar cinta, karena Kamu begitu mencintainya. Namun hal ini akan menjadi bumerang karena menyakiti diri dan hati Kamu pelan-pelan. Kamu tidak akan menjadi diri sendiri seperti dulu. Maka hati-hati, cinta adalah tentang kenyamanan, bukan penderitaan di satu pihak.

Cintailah secara sederhana, karena dalam kesederhanaan, justru akan Kamu temukan cinta yang sesungguhnya. That's the point !!!
WAJAHKU JADI BURUK RUPA DEMI NYAWA ANAKKU

Sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita. Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, beberapa tahun lalu. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronik.

Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat teman-teman wanita yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor. Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan wanita lajang. Bahkan putri pemilik perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul-betul seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting. Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satunya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega bisnis yang bertanya siapa wanita cacat di rumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.
Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.

Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. “Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”. Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.

Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik.

Teman-teman yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, jangan lupa untuk selalu berbakti kepada beliau. Karena tanpa perantara beliau, kita semua tidak akan pernah hidup di dunia ini.
HUKUM MEMAKAI GELAR “HAJI / HAJJAH” DI DEPAN NAMA 

Kaum Muslim Indonesia
Jangan hilangkan pahala hajimu dengan ingin diberi/menambahkan gelar “Haji/Hajjah” didepan namamu.

Simaklah pendapat beberapa ulama:

Di Indonesia biasanya orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji, setelah pulang ke kampung halamannya langsung mendapatkan gelar “Haji/Hajjah” di depan namanya.

Bagaimana sebenarnya hukum menggunakan gelar “Haji/Hajjah” dalam islam? Simak penjelasan beikut ini.

Fatwa Asy Syaikh Shalih As Suhaimi hafizhahullah.

Pertanyaan: Para Haji di tempat kami, apabila seorang dari mereka telah kembali (ke daerahnya) tidak rela dipanggil “Wahai fulan,” namun harus ditambah “Haji Fulan?”

Beliau menjawab: Ini perkara yang berbahaya sekali, sebagiannya menggantungkan tanda di rumahnya, biar ia dipanggil “Haji Fulan” dan meletakkan bingkai yang besar kemudian digantungkan di rumahnya, atau di setiap sisi di ruang tamu. Tidak diragukan lagi, perbuatan seperti ini tidak boleh, dan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada perbuatan riya’.
Para shahabat yang berjumlah 120.000, mereka juga telah menunaikan haji, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang digelari dengan “Pak Haji”. Na’am.

Penjelasan Al Ustadz ‘Abdul Barr hafizhahullah

Pertanyaan: Bagaimana dengan orang yang digelari dengan “Haji?” Karena hal ini sudah menjadi predikat bagi orang yang sudah pernah pergi haji dan tidak mau dipanggil kecuali dengan panggilan “Pak Haji.”

Jawaban: Penting bagi kita untuk mengetahui bahwa pada dasarnya amalan yang diharapkan padanya pahala di sisi Allah, amalan yang dilakukan seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu harus disembunyikan. Tidak mengandung harapan untuk dipuji atau disanjung dan yang semisalnya, agar mendapatkan pahala di sisi Allah. Karena amalan yang diterima di sisi Allah, selain dia itu sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia juga ikhlas karena Allah.
Dan diantara upaya seseorang untuk menjaga keikhlasan adalah tidak mengungkit-ungkitnya dan tidak menginginkan sanjungan darinya.
Maka seorang yang pergi haji kemudian ingin dipanggil “Haji,” yang jelas dan telah dimaklumi bahwa panggilan “Haji” di sini mengandung pujian. Apalagi kalau sampai dia sudah pergi haji dan tidak mau dipanggil kecuali dengan sebutan “Pak Haji.” Dikhawatirkan gugur amalannya, tiada pahala di sisi Allah.
Ditambah lagi tidak seorang pun dari shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataupun tabi’in (murid shahabat), tabi’ut tabi’in (murid dari murid shahabat) dan ulama-ulama islam (yang menggunakan gelar tersebut). Kita tidak pernah mendengar Haji Abu Bakar Ash Shiddiq, Haji ‘Umar bin Khaththab, Haji ‘Ali bin Abi Thalib, Haji ‘Utsman bin ‘Affan, dan juga tidak pernah mendengar Haji Imam Syafi’i, Haji Imam Ahmad. Ini adalah laqab-laqab yang tidak syar’i dan bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Wallahu ta’ala a’lam.

Penjelasan Al Ustadz Hammad Abu Mu’aawiyah hafizhahullah

Pertanyaan: Saya pernah mendengar bahwa penulisan gelar Haji di nisan tidak diperbolehkan. Apakah pernyataan itu benar? Karena kami ada niatan memberangkatkan haji bapak (mertua), namun tidak sempat karena beliau sudah berpulang sebelum kami sempat menjalankan niatan kami. Dan rencananya kami akan menghajikan beliau melalui orang lain, jadi ketika membangun makam, di nisan beliau nantinya sudah dapat ditulis gelar “Haji” di depan nama beliau. Mohon jawaban dan petunjuknya. Terimakasih.

Jawaban: Butuh kita ketahui bahwa gelar-gelar syar’i hendaknya semua berpatokan dengan Al Qur’an dan Sunnah, karena masalah penamaan termasuk masalah yang diatur oleh syari’at islam. Maka demikian pula untuk menetapkan nama syar’i juga dibutuhkan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah.
Misalnya seorang memiliki gelar islam, dia muslim atau dia mu’min, ini jelas tidak ada masalah jika mengatakan si fulan muslim atau si fulanah muslimah, dia mu’min atau dia mu’minah. Karena ada nash tentang gelar muslim. Demikian pula para shahabat yang di Makkah yang hijrah ke madinah digelari dengan Al Muhajirun, dan para shahabat yang di madinah digelari dengan Al Anshor, ini juga ada nash dari Al Qur’an dan Sunnah.

Sekarang setelah kita pahami bahwa semua gelar seharusnya berdasarkan dalil syar’i, tentunya gelar-gelar yang berhubungan dengan agama. Adapun gelar- gelar yang tidak berhubungan dengan agama maka tidak butuh adanya keterangan dalil. Misalnya gelarnya DR, Prof, dan seterusnya. Ini tidak ada hubungannya dengan agama. Akan tetapi gelar muslim, mukmin, al muhajirun, al anshor ini berkaitan dengan agama.

Sekarang masalah gelar “Haji”, apakah dia berkenaan dengan gelar duniawiyyah ataukah berkenaan dengan gelar agama. Tentunya bisa dipastikan bahwa gelar “Haji” ini termasuk gelar-gelar yang berkaitan dengan agama. Buktinya tidak sembarang orang bisa mendapatkan gelar ini, mereka yang bergelar dengan “Haji” hanyalah mereka yang sudah mengerjakan haji di Baitullahil Haram. Maka di sini kita mengatakan bahwa “Haji” ini termasuk gelar-gelar yang berkenaan dengan agama.

Setelah mengetahui bahwa “Haji” merupakan gelar yang berkenaan dengan agama. Apakah ada dalil dari Al Qur’an dan Sunnah yang menerangkan gelar ini? Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di depannya ada gelar “Haji” Muhammad?” Atau misalnya, Abu Bakar Ash Shiddiq dikatakan Haji Abu Bakar, Haji ‘Umar, Haji ‘Utsman, Haji Ali dan seterusnya. Apakah ada shahabat yang mengerjakan hal tersebut? Apakah ada ulama tabi’in yang seperti itu? Apakah ada ulama tabi’ut tabi’in yang bergelar seperti itu? Maka jawabannya tidak ada sama sekali. Maka gelar “Haji” ini merupakan gelar yang tidak ada dalilnya sama sekali, tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

Seandainya gelar ini baik maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menggelari diri beliau dengannya, dan Nabi akan menggelari para shahabat dengan gelar “Haji” ini. Tapi tatkala tidak ada sama sekali dari mereka (yang melakukan hal tersebut) maka itu menunjukkan bahwa gelar-gelar ini tidak dibutuhkan dan tidak sepantasnya disematkan pada seseorang. Maka ini adalah masalah yang pertama, bahwa gelar “Haji” ini tidak ada landasan dalil sama sekali, sehingga tidak boleh bergelar dengannya.

Masalah berikutnya bahwa haji ini merupakan ibadah yang agung, yang dituntut untuk seseorang ikhlas di dalamnya. Dan barangsiapa yang tidak ikhlas dalam hajinya maka dia telah terjatuh ke dalam kesyirikan dan hajinya tidak sah. Sementara memberikan penamaan atau gelar-gelar “Haji” ini adalah wasilah atau sarana untuk membuka pintu-pintu riya’ atau sum’ah, ingin didengar atau diketahui kalau dia sudah haji. Dan ini akan nampak, misalnya ketika dia disebut namanya tanpa ada penyebutan “Haji” di depannya, maka dia merasa tidak enak, dia merasa kecewa dengannya, dia merasa tidak senang dengan orang tersebut.
Maka ini menunjukkan dia ada riya’, dia telah berbuat riya’ dan sum’ah pada hajinya. Maka menggelari dengan “Haji” ini membuka pintu-pintu riya’, sum’ah dan kesyirikan. Di mana seorang merasa hebat, merasa bangga, ‘ujub, merasa kagum dengan dirinya ketika dia sudah haji, atau ingin diketahui bahwa dia sudah haji. Ini semua merupakan wasilah yang bisa menghantarkan kepada kesyirikan. Dan tentunya kita tidak ingin orang tua kita yang sudah meninggal mendapatkan kesalahan karena perbuatan kita.

Kemudian masalah yang ketiga, haji itu kalah utama dibandingkan shalat, shalat jauh lebih utama dibandingkan haji. Zakat jauh lebih utama dibandingkan haji, puasa lebih utama dibandingkan haji. Akan tetapi seandainya gelar-gelar “Haji” disyari’atkan, kenapa hanya menggunakan “Haji” tidak sekalian “Shalat?” Misalnya dikatakan Haji Ibrohim, kenapa tidak dikatakan Shalat Ibrohim atau Zakat Ibrohim, padahal shalat lebih utama dibandingkan haji. Ini tentunya karena adanya status tersendiri yang disandang oleh orang yang bergelar “Haji” ini. Maka ini merupakan riya’, keinginan untuk dipuji atau ingin didengar. Maka sekali lagi hendaknya menggelari dengan gelar-gelar seperti ini, baik dia masih hidup apalagi sudah meninggal, hendaknya ditinggalkan. Karena ini tidak mendatangkan kebaikan sama sekali, justru bisa memudhorotkan dirinya dengan terjatuh ke dalam riya’ atau sum’ah atau kejelekan-kejelekan yg lain.

Wallahu a’lamu bish shawwab.
Semoga Bermanfaat.
TUJUH TANDA KEBAHAGIAAN DUNIA


Sahabatku.. Ibnu Abbas adalah salah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal dengan julukan Turjumaanul Qur’an (orang yang paling ahli dalam menerjemahkan Al-Quran). Beliau sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah. Ia pernah secara khusus didoakan oleh Rasulullah, maka pada usia 9 tahun telah hafal Al-Quran dan menjadi imam di masjid, ''Ya Allah pahamkanlah (faqihkanlah) ia.'' (HR. Muslim).Menurut Ibnu Abbas ada 7 tanda kebahagiaan dunia, yaitu :

1. Hati yang selalu bersyukur..
Jika diberi kesenangan, orang yang beriman akan ikhlas dan bersyukur dengan memuji Allah, berdoa, membagikan rizki dan nikmat kepada yang lainnya. Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah) dan tidak berambisi yang berlebihan sehingga ia akan merasakan ketenangan..

2. Pasangan hidup yang sholeh/sholehah..
Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh/sholehah. Sebaliknya seorang istri yang sholehah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suami dan anak-anaknya. Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah menjadi teduh sehingga terasa indah dan menentramkan..

3. Anak yang sholeh/sholehah..
"Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakannya." (HR. Muslim)

4. Lingkungan yang kondusif untuk iman kita..
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar" (QS. At Taubah : 119)
Rasulullah juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan yakni sering menasehati dan membangkitkan semangat keimanan sehingga kita pun dapat menularkan nuansa kebaikan kepada lingkungan sekitar kita..

5. Harta yang halal..
Harta yang halal akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya agar barokah..

6. Semangat untuk memahami agama..
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, semakin cinta kepada agamanya sehingga semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya, hati yang hidup adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman..

7. Umur yang barokah..
Umur yang barokah artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah dan mempersiapkan diri untuk akhirat sehingga ia semakin rindu untuk bertemu dengan Allah. Inilah semangat hidup orang yang barokah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya barokah..
 KISAH SANDAL HILANG DI MASJID

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Seorang pria muda baru pulang dari berbelanja di sebuah minimarket. Biasanya usai berbelanja keceriaannya terpancar berlipat-lipat.
Namun, kali ini selain kesenduan, sumpah serapah juga mengalir dari mulutnya. Dia baru saja kehilangan helm barunya. “Aku sengaja beli helm mahal supaya tahan lama. Tapi malah digondol maling keparat itu!” omelnya.

Semalaman dia mengomel terus dengan muka marah padam. Para pegawai minimarket hanya mengerut ketakutan saat dikomplain soal kehilangan tersebut. Dia betul-betul kecewa dan marah besar atas kejadian tersebut.
“Kalau maling itu kutemukan, dia pasti kucincang-cinca ng sampai lumat.”
Sesampainya di rumah, istrinya bertanya, “Apa yang kaurasakan saat ini?”

Suaminya menjelaskan dengan suara tinggi, “Kepalaku pusing, pandanganku berkunang-kunang, darahku mendidih, selera makanku hilang.”
Beruntunglah Pria itu mempunyai Istri yang pandai menghibur dan menggembirakan sang suami …….
“Bukan hanya helm yang berhasil dicuri maling itu, tapi juga kebahagiaan hidupmu, sayang. Bila kau terus-terusan marah, penyakit darah tinggimu akan kambuh, pikiran jadi kacau hingga tak bisa mencari nafkah dengan baik.

Jika kau ikhlas dan lebih berhati-hati di lain waktu, pikiranmu akan tenang sehingga bisa mencari rezeki yang lebih banyak. Insya Allah, rezeki yang diperoleh dengan ketenangan itu melebihi harga helm yang hilang,” terang istrinya.

“Aku menabung lama untuk membeli helm mahal itu. Aku belum bisa menerima kenyataan ini, aku tak rela,” ungkap suaminya masih kesal.
“Baiklah, maukah kau mendengar kisah tentang orang saleh yang tak mau kehilangan kebahagiaannya? ” tanya istrinya. Suami yang kelelahan akibat kehabisan energi meluapkan amarah itu tak punya pilihan kecuali menyetujui tawaran istrinya. Si istri pun memulai ceritanya.

Suatu hari seorang musafir mengalami kejadian buruk di tempat baik. Sengaja dia datang ke masjid guna menunaikan ibadah beribadah kepada Allah. Tak ada perbuatan buruk yang dilakukannya di tempat suci itu. Bahkan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT hanyalah yang berkaitan dengan kebaikan.
Seusai shalat, musafir itu keluar dari masjid. Ternyata sandal satu-satunya hilang dari tempat semula. Semua orang di sana telah ditanyai, tapi tak seorang pun yang mengetahui ke mana raibnya.
Masjid itu dia kelilingi. Setiap inci diperhatikan, siapa tahu sandal itu terselip atau terlempar jauh. Namun, segala upaya tak menghasilkan apa-apa, sandalnya raib digondol entah siapa.

Bagaimana dia akan melanjutkan perjalanan jauh tanpa alas kaki? Sementara itu, dia tak punya cukup uang untuk membeli sandal baru. Di zaman itu sandal adalah barang yang sangat mewah, hanya segelintir orang yang sanggup memilikinya.

Musafir malang itu menangis tersedu-sedu di pelataran masjid. Kesedihannya amat mendalam hingga tak malu meneteskan air mata di depan umum. Namun, tidak seorang pun datang menghiburnya, sekadar bertanya penyebab kesedihannya. Dia betul-betul sendirian menghadapi masalahnya.
Tangisannya terhenti saat sesosok istimewa melintas di hadapannya. orang itu tersenyum sangat indah hingga orang lain merasakan kedamaian. Senyuman itu bahkan menghentikan tangisan orang yang tengah bersedih.

Hal yang mengagetkan, ternyata sosok yang menakjubkan itu tidak punya kaki sama sekali alias buntung.

Musafir itu bergumam, “Dia yang kehilangan dua kaki saja masih bisa tersenyum bahagia. Dia bahagia dengan takdirnya. Sementara aku yang hanya kehilangan sandal malah berduka cita. Bukan cuma sandal yang hilang tapi juga kebahagiaanku.”

Istri itu menutup ceritanya dengan menyuguhkan segelas air putih. Suaminya berujar, “Ya, harusnya aku bersyukur cuma helm yang hilang, bukan kepalaku.”

“Apa yang di sisi kalian pasti akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah pasti kekal.” (An-Nahl: 96)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Wallahu a'lam bishshawab, ..
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
SUBHANALLAH. DIKUBUR 26 TAHUN, KAIN KAFAN SANG KIAI UTUH DAN HARUM BAUNYA

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Tiga bak berisi air dan potongan kayu ukuran 70 cm x 30 cm telah disiapkan anak-anak almarhum KH. Abdullah. Saat itu, Minggu 2 Agustus 2009, makam Kiai Abdullah akan dipindahkan lantaran di lokasi itu terkena proyek pelebaran Jalan Benda, Batu Ceper, Tangerang, yang mengarah ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Air yang ada di dalam bak itu rencananya akan digunakan untuk mencuci tulang belulang sebelum dipindahkan ke lokasi pemakaman yang baru. Sementara potongan kayu sengon sebanyak 9 potong diperuntukkan sebagai dinding pembatas jenazah di dalam liang lahat.

"Saya sudah beberapa kali melihat proses pemindahan kuburan di Karet Bivak, Jakarta Pusat. Persiapannya memang seperti itu," kata Achmad Fathi, anak ketiga Kiai Abdullah.

Namun semua perlengkapan itu akhirnya tidak terpakai. Soalnya, ketika makam yang berusia 26 tahun digali, pemandangan aneh terjadi. Jasad Kiai Abdullah ternyata masih utuh. Begitu juga dengan kain kafan dan kayu penutup jenazah. Tidak ada tanda-tanda bekas gigitan rayap atau binatang tanah di kafan maupun di kayu kamper tersebut.

Sementara Mukhtar Ali, anak sulung Kiai Abdullah, yang mengangkat jenazah ayahnya dari liang lahat mengaku sempat kaget.

Soalnya kondisi jenazah hampir sama seperti saat dikuburkan, 22 Oktober 1983 silam."Kondisi jenazah persis sama seperti saat dikubur dulu. Hanya tubuhnya agak menyusut saja, dan rambutnya memutih" jelas Mukhtar.

Mukhtar dan keluarganya semakin kaget, jenazah juga beraroma harum yang menyerbak. Wanginya, kata Mukhtar, tidak seperti parfum-parfum yang ada di toko-toko minyak wangi. Teriakan takbir pun langsung terdengar dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut.

Yang juga dirasa aneh oleh keluarga, ribuan warga tiba-tiba berdatangan mengikuti prosesi pemindahan jenazah. Padahal keluarga tidak memberi pemberitahuan kepada warga maupun murid-murid Kiai Abdullah. Mereka tiba-tiba saja datang.

"Awalnya pemindahan jenazah itu hanya dilakukan keluarga. Paling hanya 20 orang. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba saat jenazah digali orang-orang sudah banyak berkumpul," ujar Mukhtar.

Saking banyaknya orang yang datang, imbuh Mukhtar, mobil dan motor pelayat yang terparkir di sisi jalan Benda, panjangnya mencapai 5 kilometer sehingga membuat kemacetan yang luar biasa di jalan tersebut.

Beberapa warga yang ditemui detikcom menuturkan, sebelum proses pemindahan jenazah, sebenarnya tanda-tanda keanehan sudah muncul terkait rencana pemindahan makam tersebut. Sebab saat alat berat

ingin menghancurkan musala dan bangunan makam, tidak bisa berfungsi. Beberapa kali alat pengeruk dari mobil beko patah ujung kukunya.

Karena kejadian itu, pihak kontraktor pelebaran jalan menunda pembongkaran yang rencananya akan dilakukan pada Januari 2009 itu. Pembongkaran baru bisa dilanjutkan awal Agustus setelah ada kesepakatan dengan keluarga. Salah satunya soal cara pembongkaran musala dan makam itu, yakni dengan hanya menggunakan palu dan linggis. Bukan pakai alat berat.

Keluarga Kiai Abdullah sebenarnya menyayangkan kalau musala itu dibongkar. Sebab musala yang telah ada sejak puluhan tahun lalu itu sangat dibutuhkan warga setempat untuk beribadah.

Musala yang berdiri di atas tanah wakaf itu sejak dibangun Kiai Abdullah tahun 1950-an sudah mengalami beberapa pemugaran dan pelebaran. Hingga menjadi semakin luas dan bangunannya menjadi permanen.

Namun pada 2007, Pemkot Tangerang ternyata punya rencana melakukan pelebaran jalan Benda, Juru Mudi, Batu Ceper, yang berada di sepanjang Sungai Cianjane. Musala dan makam itu kebetulan berada di lokasi yang akan dijadikan akses jalan sehingga terpaksa harus digusur.

Tanah yang akan digusur dihargai Rp 500 ribu per meter. Harga itu belum termasuk bangunan yang akan dibongkar. Tapi keluarga Kiai Abdullah menolak pemberian uang pengganti. Pasalnya , tanah tempat musala dan makam itu merupakan tanah wakaf yang tidak boleh diperjualbelikan.

Pihak keluarga hanya meminta Pemkot membangun kembali musala di sekitar wilayah Juru Mudi, supaya warga setempat mudah kalau ingin beribadah. "Sepeser pun kami tidak menerima uang penggantian. Biaya pemindahan jenazah saja kami tanggung sendiri, sekalipun Pemkot sudah menawarkan" jelas Mukhtar, anak sulung Kiai Abdullah.

Kini jenazah Kiai Abdullah dimakamkan di depan pekarangan rumah Achmad Fathi, yang berjarak hanya 15 meter dari lokasi pemakaman sebelumnya. Di areal pemakaman baru itu terdapat tiga makam, yakni makam KH Abudullah bin Mukmin, makam istri keduanya Maswani, serta makam putra keduanya yang bernama M Syurur.

Rencananya, areal makam itu akan diperluas lantaran setiap hari banyak orang yang datang untuk berziarah, terutama setelah tersiar kabar jasad Kiai Abdullah masih utuh meski dikubur selama 26 tahun. Bahkan untuk memudahkan para peziarah, keluarga bermaksud membangun musala di samping areal makam.

Semoga Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan menjadikan kita termasuk dalam kekasih2-NYA.  Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
Kisah memilukan " Cinta Seorang Anak Kepada Ibunya"

Seorang janda miskin Siu Lan punya anak umur 7 tahun bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue dipasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.

Saat pulang Siu Lan tidak menemukan Lie Mei dirumah. Siu Lan langsung sangat marah. Putrinya benar-benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah. Akhirnya Siu Lan pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Lie Mei tidak dapat masuk. Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.

Sepulang dari jual kue Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Jeritan Siu Lan memecah kebekuan salju saat itu. Ia menangis meraung2, tetapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membopong Lie Mei masuk kerumah. Siu Lan mengguncang2 tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei.

Tiba2 sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Isinya sebuah biskuit kecil yg dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Lie Mei yang berantakan tapi masih dapat dibaca,

"Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang tahun".
10 Hal yang Bisa Membuka Pintu Rezeki Setiap Hari

Berikut ini adalah beberapa tips dan nasehat dari para ‘alim agar dipermudah rezekinya:

1.Bertawakal dan hanya berharap kepada Allah

Dengan tawakal, maka seseorang akan dikaruniai rasa kaya oleh Allah SWT. Meski mungkin tidak berlebih, tapi ada perasaan kaya dalam hati. Firman-Nya:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah (SWT), niscaya Allah (SWT) mencukupkan (kebutuhannya).” (At-Thalaq: 3)

Nabi s.a.w. bersabda:

“Seandainya kamu bertawakal kepada Allah (SWT) dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan sore hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al -Hakim dari Umar bin al-Khattab ra).

2. Memperbanyak Istighfar

Istighfar adalah rintihan dan pengakuan dosa seorang hamba di depan Allah (SWT), yang menjadi sebab Allah (SWT) berbelas kasih pada hamba-Nya lalu Dia berkenan melapangkan jiwa dan kehidupan si hamba.

Sabda Nabi saw: “Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah (SWT) akan menghapus segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al -Hakim dari Abdullah bin Abbas ra)

3.Tinggalkan perbuatan dosa

Istighfar tidak laku di sisi Allah (SWT) jika masih buat dosa. Dosa bukan saja membuat hati resah, bahkan bisa menutup pintu rezeki. Sabda Nabi s.a.w. :

“… Dan seorang pria akan diharamkan baginya rezeki karena dosa yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmidzi)

4.Berzikir dan selalu ingat Allah (SWT)

Banyak ingat Allah (SWT) membuat hati tenang dan kehidupan terasa lapang. Ini rezeki yang hanya Allah (SWT) berikan kepada orang beriman. Firman-Nya:

“(Yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (SWT). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (SWT) hati menjadi tenteram. “(Ar-Ra’d: 28)

5.Berbakti dan mendoakan orang tua

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah s.a.w. berpesan agar siapa yang ingin panjang umur dan ditambahi rezekinya, harus berbakti kepada orangtua dan menyambung tali kekeluargaan. Beliau s.a.w. juga bersabda:

“Siapa berbakti kepada orang tuanya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah (SWT) akan memperpanjang umurnya.” (Riwayat Abu Ya’ala, at-Thabrani, al-Asybahani dan al-Hakim)

Mendoakan orang tua juga menjadi sebab mengalirnya rezeki, berdasarkan sabda Nabi saw :

“Bila hamba itu meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya niscaya terputuslah rezeki (Allah (SWT)) darinya.” (Riwayat al-Hakim dan ad-Dailami)

6. Berbuat baik dan menolong orang yang lemah

Berbuat baik kepada orang yang lemah ini termasuk berbakti dan membuat senang orang tua, orang sakit, anak yatim dan fakir miskin, juga istri dan anak-anak yang masih kecil. Sabda Nabi s.a.w. :
“Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)

7. Tunaikan hajat orang lain

Menunaikan hajat orang menjadi sebab Allah (SWT) melapangkan rezeki dalam bentuk tertunainya hajat sendiri, seperti sabda Nabi saw:

“Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah (SWT) akan menunaikan hajatnya” (HR Muslim)

8. Perbanyaklah bershalawat

Ada hadis yang menganjurkan bershalawat jika hajat atau cita-cita tidak tercapai. Karena shalawat itu dapat menghilangkan kesusahan, kesedihan, dan kesulitan serta memperluas rezeki dan menyebabkan terlaksananya semua hajat. Wallahu a’lam.

9. Banyak berbuat kebaikan
Ibnu Abbas berkata:

“Sesungguhnya kebajikan itu memberi cahaya pada hati, kemurahan rezeki, kekuatan jasad dan disayangi oleh makhluk yang lain. Sedangkan kejahatan pula bisa menggelapkan rupa, menggelapkan hati, melemahkan tubuh, sempit rezeki dan makhluk lain mengutuknya. “

10.Bangun pagi lebih awal (Jangan tidur sampai siang)

Menurut Rasulullah saw, Allah SWT membagikan rezekinya pada waktu pagi. Maka memulai aktifitas sesudah sholat subuh berjamaah sangat baik dilakukan. Ada banyak manfaat juga yang bisa didapatkan dari bangun lebih pagi ini dalam kesehatan. Ingat, kesehatan juga adalah rejeki yang tiada terkira.
SI BODOH ITU TERNYATA LEBIH PINTAR

Suatu ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, "Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal"

"Masak, apa iya?" jawab pengusaha

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, "Benu, kamu boleh pilih & ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!"

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil."

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, "Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp. 2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?"

Benu pun tertawa kecil berkata, "Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari..."

Catatan: Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya kita jika tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

Kamis, 18 September 2014

Tujuan Manusia Diciptakan

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’d:
Allah Subhaanahu wa Ta’ala memiliki nama Al Hakim, yang artinya Mahabijaksana. Dia Mahabijaksana dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, taqdir-Nya terhadap alam semesta, dan dalam menetapkan syariat. Oleh karena perbuatan-Nya di atas kebijaksanaan, maka Dia tidaklah menciptakan manusia main-main tanpa ada hikmah di balik itu. Dia berfirman,
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (Terj. QS. Al Mu’minuun: 115)
Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dan jin tidak lain agar mereka hanya menyembah dan beribadah kepada-Nya serta mengisi hidup mereka di dunia dengan beribadah yang nantinya Dia akan membalas mereka dengan balasan yang besar, berupa surga dan tambahannya. Inilah beban yang dipikulkan kepada mereka selama mereka hidup di dunia. Dia berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Terj. QS. Adz Dzaariyaat: 56)

Kesiapan manusia menerima beban beribadah
Beban beribadah ini sebelumnya telah Allah tawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun mereka menolaknya karena khawatir di tengah perjalanan mereka tidak mampu memikulnya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (Terj. QS. Al Ahzaab: 72)
Amanah di ayat ini adalah beban beribadah, tugas-tugas keagamaan, atau menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan.

Tujuan diutusnya para rasul
Ketika manusa lengah terhadap tujuan ini, yakni tujuan mereka diciptakan di dunia, maka Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya untuk mengingatkan mereka terhadap tujuan ini. Kemudian pelaksanaan ibadah itu diperinci dalam kitab-Nya dan dalam sunnah Rasul-Nya karena keadaan manusia yang tidak mengetahui bentuk dan tatacara ibadah yang dicintai Allah dan diridahi-Nya. Oleh karena itu, di antara tujuan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengajarkan tatacara atau bentuk ibadah yang diridhai Allah subhaanahu wa Ta’ala setelah mengajak manusia hanya beribadah dan menyembah kepada Allah ‘Azza wa Jalla saja. Dari sini, kita ketahui tidak dibenarkannya mengada-ada dalam beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, karena yang mengetahui tatacara yang diridhai Allah adalah utusan-Nya yang mendapatkan wahyu dari-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sanksi bagi manusia yang menyimpang dari tujuan diciptakannya
Selanjutnya, apabila manusia keluar dari tujuan mereka diciptakan, maka berarti ia telah bersikap melampaui batas dan tidak memenuhi kewajibannya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
Adapun orang yang melampaui batas,–Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,–Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).–Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya–Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (Terj. QS. An Naazi’at: 37-47)
Oleh karena itu, hidup manusia di dunia bukanlah sekedar untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Ia tidaklah sama seperti hewan yang tidak terkena beban untuk beribadah, dimana hidup mereka (hewan-hewan) hanya makan, minum, dan bersenang-senang saja. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)
Maka dari itu, isilah hidup ini dengan beribadah dan bertakwa kepada-Nya.

Ta’rif (definisi) ibadah
Ibadah adalah istilah untuk semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak (dengan lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (dengan hati).
Dengan demikian, ibadah itu ada yang bisa dilakukan oleh hati, ada yang bisa dilakukan oleh lisan dan ada yang bisa dilakukan oleh anggota badan. Contoh ibadah yang dilakukan oleh hati adalah berniat ikhlas, mencintai kebaikan didapatkan orang lain, memiliki ‘aqidah yang benar dsb. Contoh ibadah yang dilakukan oleh lisan adalah membaca Al Qur’an, berdzikr, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata jujur dsb. Sedangkan contoh ibadah yang dilakukan oleh anggota badan adalah berbakti kepada orang tua, membantu orang lain, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada teman dan tetangga dsb. Dan ada ibadah yang dilakukan secara sekaligus oleh hati, lisan dan anggota badan, yaitu shalat. Oleh karena itu, shalat adalah ibadah yang paling utama sebagaimana akan diterangkan setelah ini.
Ibadah yang paling utama
Di antara sekian ibadah, yang paling utama dan paling dicintai Allah setelah tauhid adalah shalat pada waktunya. Dalilnya adalah hadits berikut:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي اللَّه عنه قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْعَمَلِ أََحَبُّ إِلىَ اللَّهِ تَعَالَى ؟ قَالَ :الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : «الجِْهَادُ فِيْ سَبِيِلِ اللَّهِ
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berjihad fii sabiilillah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Pembagian hukum ibadah
Ibadah ada yang wajib dan ada yang sunat. Yang wajib misalnya shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dsb. Sedangkan yang sunat misalnya shalat sunat rawatib, sedekah sunat, berpuasa sunat, dsb. Antara yang wajib dengan yang sunat ini yang didahulukan dan yang lebih utama adalah yang wajib, dan yang sunat dilakukan setelah kewajiban telah dikerjakan. Yang wajib itu mesti dikerjakan, dimana meninggalkannya adalah dosa, sedangkan yang sunat hanya dianjurkan saja (tidak wajib), sehingga meninggalkannya tidak berdosa. Tetapi jangan sampai karena menganggap suatu perbuatan sebagai amalan sunat lalu kita meremehkannya, terlebih meninggalkannya setelah sebelumnya merutinkannya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Abdullah bin ‘Amr bin ‘Aash:
يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيلِ
“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan; sebelumnya ia biasa melakukan qiyamullali, tetapi selanjutnya ia meninggalkan qiyamullail.” (Muttafaq ‘alaih)
Landasan dalam beribadah
Landasan yang harus ada pada seseorang yang beribadah itu ada tiga:
  1. Rasa cinta kepada Allah Ta’ala.
  2. Rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala.
  3. Rasa berharap kepada Allah Ta’ala
Ketiga hal ini mesti ada pada seseorang, yakni ketika kita beribadah, kita harus memiliki rasa cinta kepada Allah Ta’ala, memiliki rasa takut dan rasa berharap[1].
Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta kepada makanan dan harta, tidaklah termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah. Dan ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta’ala.
Golongan yang keliru dalam beribadah
Ada tiga golongan yang keliru dalam menilai ibadah, yaitu sbb:
1.      Golongan yang mengira bahwa ibadah itu hanya sebatas di masjid saja, sehingga ia memisahkan antara urusan dunia dengan agama/ibadah dan antara urusan negara dengan agama.
Ibadah dalam Islam tidak hanya dilakukan di masjid saja, bahkan  di luar masjid pun ada ibadah.
Bergaul dengan manusia mengikuti perintah Allah Ta’ala, maka mengerjakannya adalah ibadah. Contohnya:
  1. Berbakti kepada orang tua,
  2. Berbuat baik kepada orang lain, seperti kepada teman dan tetangga.
  3. Bersilaturrahim,
  4. Beramr ma’ruf dan bernahi munkar
  5. Bersedekah,
  6. Menyantuni anak yatim, orang miskin, janda dan ibnus sabil (musafir yang kehabisan bekal),
  7. Membantu orang lain,
  8. Menyingkirkan hal yang mengganggu jalan.
  9. Menjaga lisan dan tangan kita dari mengganggu orang lain,
  10. Bekerja untuk menafkahi diri, istri dan anaknya dari rezeki yang halal.
Ini semua merupakan ibadah dan dicintai oleh Allah Ta’ala.
Bahkan perbuatan mubah atau suatu kebiasaan harian jika diniatkan ibadah atau agar dapat membantu beribadah, dapat berubah menjadi ibadah. Misalnya seseorang yang makan, minum dan istirahat dengan niat agar dapat beribadah kepada Allah Ta’ala adalah ibadah, bekerja agar dapat memperoleh rezeki yang halal adalah ibadah, demikian juga menikah dengan niat menjaga diri dari yang haram juga ibadah.
2.      Golongan yang berlebih-lebihan dalam beribadah.
Golongan yang berlebih-lebihan dalam beribadah maksudnya adalah golongan yang melampaui batas sampai melewati aturan. Misalnya mewajibkan yang sunat, mengharamkan yang halal, menjauhi yang mubah dan sebagainya. Golongan ini juga salah.
3.      Golongan yang mengada-ngada dalam beribadah.
Maksudnya golongan yang beribadah tidak mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia beribadah atas dasar perkiraan atau menurutnya baik, ia membuat cara sendiri dalam beribadah. Padahal syarat diterimanya ibadah di samping ikhlas adalah harus mengikuti contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan beribadah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ
Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam! Luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi kecukupan pada hatimu dan menutupi kekuranganmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi kedua tangan-Mu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1914)
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala yang isinya mengingatkan kita agar beribadah kepada-Nya dan mengisi hidup ini dengan ibadah. Dia juga menjamin akan memberikan kecukupan kepada kita serta menutupi kekurangan kita.
Sungguh besar keutamaan beribadah kepada Allah, di samping mendapatkan kecintaan dari Allah, dekat dengan-Nya, diberikan kecukupan dalam hidup, diberikan ketenangan, dan di akhirat seseorang yang beribadah akan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, dimana orang yang memasukinya akan hidup kekal selama-lamanya dan tidak akan mati, akan senang selamanya dan tidak akan sedih, akan sehat selamanya dan tidak akan sakit, akan muda selamanya dan tidak akan tua, dan akan mendapatkan kenikmatan terus-menerus tanpa usaha dan kerja keras seperti halnya di dunia, bahkan semua yang diinginkan akan diberikan. Maka, kesenangan dan kenikmatan apakah yang lebih baik daripada ini?
Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.

Rabu, 17 September 2014

AYAH ENGKAU LUAR BIASA

Orang tua kandungku tinggal ayahku seorang. Ibu kandungku meninggal saat aku SMA. Sejak itu ayah berusaha keras menjadi dua orang sekaligus untuk aku dan kakakku.
Ia tahu aku dan kakakku belum bisa hidup mandiri. Ia melakoni banyak pekerjaan untuk membuat keadaan kami tidak jauh berbeda dari sebelum kami kehilangan ibu....
Ini terjadi di hari pertamaku bekerja. Awalnya aku masih berpikir bahwa bekerja adalah tahapan hidup yang harus dilalui, sesederhana itu. Aku akan bekerja, mendapatkan gaji dan memberikan sebagian gajiku untuk orang tua yang selama ini membiayaiku.
Ternyata aku hanya menggunakan otak dan sibuk dengan kecemasan akan hari pertamaku sendiri. Aku ingat suatu saat aku dan sahabatku ngobrol.
"Gimana reaksi ayahmu setelah tau kamu kerja...???" (tanyanya.)
"Hmm, biasa aja sih. Cuma kasih selamat...!!!" (jawabku.)
"Oh itu sih sebenernya di balik pintu ayahmu terharu...!!!" (sahutnya.)
"Hahaha... iya mungkin. Tapi ayahku nggak pernah yang heboh² gitu kok...!!!" (balasku.)
Ternyata bekerja itu bukan hanya sebuah tahapan hidup di mana kita hanya melakukan sesuatu kemudian mendapatkan uang. Setengah hariku hampir habis di kantor untuk mempelajari ini dan itu. Dalam setengah hari itu pun aku berubah menjadi sosok yang lain dari kemarin.
Aku melepas segenap zona nyamanku, berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru, mengerjakan ini dan itu. Gila, aku capek sekali. Kemarin aku masih bisa tidur siang dan nonton TV. Masih bisa menghabiskan waktu untuk bermain².
Aku pun teringat ayahku yang sudah tua. Ini baru sehari dan aku sudah merasakan sebegitu luar biasanya bekerja. Sedangkan ayahku...??? Ia sudah menempuh puluhan tahun untuk bekerja. Ia menghadapi semua untuk menghidupi kami semua. Saat melakukan sholat Ashar, aku hampir menitikkan air mata memikirkan ini. Apa saja yang sudah kulakukan untuk ayahku...??? Apa saja yang sudah ayahku lakukan ketika aku dengan malasnya enak²an tidur siang dan nongkrong membuang banyak uang...???
Aku pulang malam hari itu. Sahabatku mengantarkanku pulang. Di tengah perjalanan kami kembali ngomong².
"Gimana hari pertama...???" (tanya sahabatku.)
"Hahahaha... Babak belur aku dihajar tugas dan waktu...!!!" (jawabku)
"Oh nggak apa², nanti juga kamu terbiasa. Ayahmu pasti terharu waktu kamu ngasih gaji pertama...!!!" (supor sahabat aku dengan nada optimis.)
Sejenak aku setuju akan pemikirannya. Namun tak lama kemudian aku membatin, "Nggak. Gaji pertamaku nggak ada apa²nya kok. Itu nggak akan cukup membayar apa yang sudah dilakukan ayahku. Bahkan, aku bekerja ini masih satu per sejuta langkah hidup ayahku...!!!"
*****
Ayah... Walaupun mungkin ia tidak terharu di balik pintu, namun di balik matanya sudah menggerombol keharuan yang nyaris tak terbendung.
Walaupun aku sudah besar, ia akan tetap khawatir ketika putrinya akan berangkat kerja di hari pertama.
Walaupun aku akan menyodorkan gaji pertamaku, itu tidak akan sebanding dengan apa yang telah ia berikan, bahkan aku masih diberi kesempatan Allah SWT untuk menerima lebih banyak lagi.
Ayah, aku baru benar² menyadari bahwa kau benar² luar biasa.

Mengapa Do'a Tak diijabah ?

Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).

Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :

Ø  Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada manfaatnya keimananmu itu.
Ø  Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu ?
Ø  Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan.
Ø  Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
Ø  Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu ?
Ø  Setiap saat engkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.
Ø  Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi (mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.
Ø  Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.

Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.

Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki datang kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku paham apa maksudmu?”

“Bagaimana dua bunyi ayat itu ?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60). Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.

"Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far.

"Tidak," jawab orang itu.

"Lalu ayat yang kedua apa ?" Tanya Imam Ja'far lagi.

"Ayat yang kedua berbunyi "Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin" (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya," ujarnya.

"Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far lagi.

"Tidak," jawabnya.

"Lalu mengapa ?" Tanya imam Ja'far.

"Aku tidak tahu," jawabnya.

Imam Ja'far kemudian menjelaskan, "Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo'a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do'amu. 

Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo'a kepada Allah, maka berdo'alah kepada-Nya dengan Jihad Do'a. Tentu Alah akan menjawab do'amu walaupun engkau orang yang berdosa."

"Apa yang dimaksud Jihad Do'a ?" sela orang itu.

Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.

Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.

Kemudian bacalah, "Ya Allah, aku meminta maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau rdhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. 
Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do'amu," papar Imam Ja'far.