MENIKMATI SURGA DAN MELIHAT WAJAH ALLAH
Rasulullah saw telah menyeru dan
memacu para sahabatnya untuk meraih kebahagiaan yang abadi. Beliau telah
memotivasi sahabatnya untuk memburu karunia yang tidak terhingga dari
Allah SWT yaitu surga.
Sejarah membuktikan bahwa para sahabat
Rasulullah saw telah mengorban harta dan jiwa mereka untuk Islam.
Mereka meninggalkan kesenangan dan syahwat duniawi. Sehingga, mereka
hanya mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan yang mereka rindu selama di
dunia. Lantas mereka bertanya “Apakah kami akan melihat Tuhan kami di
akhirat?”
Sungguh pertanyaan yang sangat hebat dan
sebagai pembuktian iman yang kuat. Lalu, pernahkan kita bertanya,
“Bagaimana kita melihat Allah?” Adakah diantara kita yang membicarakan
melihat Allah merupakan suatu nikmat TERBESAR?”
Tidak seorangpun di dunia ini yang dapat
melihat wajah Allah SWT. Wajah Allah bisa disaksikan di akhirat nanti,
itupun bagi orang-orang beriman dan beramal shaleh. Nabi Musa pernah
mencoba untuk melihat wajah Allah SWT. Tetapi Allah mengatakan kamu
tidak akan sanggup melihat wajah-Ku dan menyuruh menyaksikan bukit yang
ada di dekatnya. Bukit yang besar itu hancur, karena tidak sanggup
melihat wajah Allah, dan Musapun pingsan menyaksikan kejadian itu.
QS. Al A’raaf (7) : 143.
“Dan tatkala Musa datang
untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan
Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya
Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat
kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat
-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya
(sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh
dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia
berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang
yang pertama-tama beriman.”
Sedangkan Fir’aun dengan nada mengejek
untuk melihat Allah SWT, dan berkata buatkan untukku bangunan yang
tinggi, agar bisa melihat Tuhannya Musa. Orang-orang kafir itu memandang
diri mereka besar dan mereka telah melampaui batas.
QS. Al Qashash (28) : 38.
“Dan berkata Fir’aun: “Hai
pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka
bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku
bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan
sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang
pendusta.”
QS. Al Furqaan (25) : 21.
Berkatalah orang-orang yang
tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak
diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat
Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan
mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman.”
Orang-orang yang mendapatkan surga adalah
orang-orang yang bersih dari kekafiran dan bersih dari kemaksiatan.
Surga diberikan kepada orang-orang yang beriman dan gemar melakukan amal
shaleh. Di dalam surga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sungguh suatu keberuntungan yang besar…….
QS. Thahaa (20) : 76
“(yaitu) surga `Adn yang
mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu
adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).”
Al-Hajj (22) : 14.
“Sesungguhnya Allah
memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke
dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya
Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
Az-Zukhruf : 71.
“Diedarkan kepada mereka
piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat
segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu
kekal di dalamnya.”
Ternyata, orang-orang beriman dan beramal
shaleh, bukan saja mendapatkan surga tetapi mereka mendapatkan
kenikmatan terbesar yaitu melihat wajah Allah SWT. Ini merupakan Rahmat
yang luar biasa diberikan kepada orang-orang beriman dan beramal shaleh.
Abu Hurairah berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Wahai Rasulullah, apakah pada hari kiamat kami melihat Tuhan kami’?”
Rasulullah saw balik bertanya, “Apakah pada malam purnama yang cerah, kalian terhalang melihat bulan?”
“Tidak”. Jawab mereka.
Beliau bertanya lagi, “Apakah kalian terhalangi melihat matahari yang tidak tertutupi awan?”
“Tidak”.
Lantas beliau bersabda, “Sungguh
kalian akan melihat Tuhan kalian seperti melihat bulan pada malam
purnama dan seperti melihat matahari yang tidak tertutupi awan.”
Beliau melanjutkan, “Allah
mengumpulkan seluruh manusia pada hari yang tidak diragukan. Lalu Allah
berfirman kepada mereka, “Barang siapa yang menyembah sesuatu hendaklah
ia mengikutinya!’, maka yang menyembah matahari mengikuti matahari. Yang
menyembah bulan engikuti bulan. Yang menyembah tiran mengikuti tiran.
Sementara umat ini tetap di tempat, termasuk orang-orang munafik di
kalangan umat ini, lalu Allah berfirman, ‘Aku adalah Tuhan kalian.
“Merekapun menjawab, ‘Ini tempat kami hingga Tuhan mendatangi kami,
‘Maka Tuhan mendatangi mereka dalam bentuk-Nya yang sesungguhnya. Lalu
Tuhan berfirman, ‘Akulah Tuhan kalian. Kemudian mereka menyahut ‘Engkau
adalah Tuhan kami.’ Selanjutnya shirath di pasang, para malaikat berdiri
di pinggir shirath. Tak seorangpun berbicara, kecuali para nabi dan
rasul. Mereka berucap, “Ya Allah, selamatkan, selamatkan …….. Ya Allah,
selamatkan, selamatkan…. Ya Allah, selamatkan, selamatkan…….”
Sementara orang-orang kafir, mereka
terhalang dari melihat Allah SWT. Hal itu dikarenakan kedurhakaan dan
kezaliman yang mereka perbuat.
QS. Al-Muthaffifiin (83) : 15.
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.”
Marilah kita berdo’a kepada Allah, agar
kita dimasukkan golongan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.
Diampuni dosa-dosa kita. Dimudahkan dalam pengadilan di akhirat.
Dimasukkan ke dalam surga yang dijanjikan dan mendapatkan melihat wajah
Allah yang Maha Agung dan Maha Bijaksana sebagai karunia terbesar………
Amin. Wallahu’alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar