Total Tayangan Halaman

Minggu, 31 Agustus 2014

 Kesedihan dan Kesenangan, Dua Sayap Kehidupan

           Lewat selembar buletin dakwah yang dibagikan menjelang Jum’atan, sebuah pesan Rasulullah saya baca. Kalimat itu mungkin sudah sering kita baca atau dengar, tapi di saat musibah banjir melanda ibu kota beberapa hari terakhir ini, pesan itu terasa lebih bergetar sekaligus menenteramkan hati.
Sesungguhnya ada dua kebaikan dalam hidup seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya dan jika ditimpa kesedihan, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” begitu kurang lebihnya pesan Rasulullah.
Kalimatnya sederhana, namun tak sesederhana menerjemahkannya menjadi perilaku hidup sehari-hari. Namun bukan berarti pula teramat sulit untuk dilakukan apabila kita berusaha memahami dan mengimaninya. Letak inti dari pesan itu adalah bersyukur dan bersabar.
Sebagaimana kita lihat pemberitaan media akhir-akhir ini, banjir besar kembali melanda ibu kota Jakarta di pertengahan Januari 2013 ini. Sebagian besar penduduk Jakarta mendapatkan limpahan air yang meluap dari sungai-sungai, selokan dan saluran-saluran air yang tak mampu menampung derasnya curah hujan tanpa henti selama beberapa hari terakhir.
Dampak dari banjir itu, ada yang rumahnya tergenang air setinggi mata kaki, ada yang sampai lutut, bahkan sampai sepinggang. Juga tak sedikit yang rumahnya tenggelam. Bencana banjir kali ini tentu menimbulkan kesedihan teramat sangat. Yang lebih menyedihkan lagi ada yang kehilangan nyawa seperti korban dua orang pekerja di kawasan Jakarta Pusat yang terjebak di lantai basemen sebuah gedung pencakar langit.
Namun di sisi lain banyak yang masih beruntung tak mengalami banjir. Mereka masih bisa bekerja, tidur dan makan di rumah seperti biasa. Kehidupan mereka masih normal tidak terganggu oleh banjir.
Itulah dua sisi kehidupan, senang dan sedih terbentang di hadapan kita. Seperti dua sisi mata uang, selalu ada dan datang silih berganti dalam kehidupan ini. Dan kita berada di salah satu sisi mata uang itu.
Akhirnya, saya hanya ingin bertanya pada diri sendiri. Dalam posisi sedih menjadi korban banjir atau senang karena terhindar dari banjir sudahkah saya bersabar atau bersyukur? Sudahkah saya mengepakkan dua sayap kehidupan seperti ajaran baginda Rasul? Hati nurani mungkin akan lebih jujur menjawabnya. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar