Kesedihan dan Kesenangan, Dua Sayap Kehidupan
Lewat selembar buletin dakwah yang
dibagikan menjelang Jum’atan, sebuah pesan Rasulullah saya baca. Kalimat
itu mungkin sudah sering kita baca atau dengar, tapi di saat musibah
banjir melanda ibu kota beberapa hari terakhir ini, pesan itu terasa
lebih bergetar sekaligus menenteramkan hati.
“Sesungguhnya ada dua kebaikan dalam hidup seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya dan jika ditimpa kesedihan, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.” begitu kurang lebihnya pesan Rasulullah.
Kalimatnya sederhana, namun tak
sesederhana menerjemahkannya menjadi perilaku hidup sehari-hari. Namun
bukan berarti pula teramat sulit untuk dilakukan apabila kita berusaha
memahami dan mengimaninya. Letak inti dari pesan itu adalah bersyukur dan bersabar.
Sebagaimana kita lihat pemberitaan media
akhir-akhir ini, banjir besar kembali melanda ibu kota Jakarta di
pertengahan Januari 2013 ini. Sebagian besar penduduk Jakarta
mendapatkan limpahan air yang meluap dari sungai-sungai, selokan dan
saluran-saluran air yang tak mampu menampung derasnya curah hujan tanpa
henti selama beberapa hari terakhir.
Dampak dari banjir itu, ada yang
rumahnya tergenang air setinggi mata kaki, ada yang sampai lutut, bahkan
sampai sepinggang. Juga tak sedikit yang rumahnya tenggelam. Bencana
banjir kali ini tentu menimbulkan kesedihan teramat sangat. Yang lebih
menyedihkan lagi ada yang kehilangan nyawa seperti korban dua orang
pekerja di kawasan Jakarta Pusat yang terjebak di lantai basemen sebuah
gedung pencakar langit.
Namun di sisi lain banyak yang masih
beruntung tak mengalami banjir. Mereka masih bisa bekerja, tidur dan
makan di rumah seperti biasa. Kehidupan mereka masih normal tidak
terganggu oleh banjir.
Itulah dua sisi kehidupan, senang dan
sedih terbentang di hadapan kita. Seperti dua sisi mata uang, selalu ada
dan datang silih berganti dalam kehidupan ini. Dan kita berada di
salah satu sisi mata uang itu.
Akhirnya, saya hanya ingin bertanya pada
diri sendiri. Dalam posisi sedih menjadi korban banjir atau senang
karena terhindar dari banjir sudahkah saya bersabar atau bersyukur?
Sudahkah saya mengepakkan dua sayap kehidupan seperti ajaran baginda
Rasul? Hati nurani mungkin akan lebih jujur menjawabnya. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar